artikel


Dari mana asal kata pantun, cukup menarik untuk diperhatikan. Sebab puisi tradisional Melayu yang bernama pantun ini telah memainkan peranan yang begitu istimewa dalam perjalanan hidup orang Melayu. Ada dugaan kata pantun berasal dari akar kata tun yang mempunyai arti teratur.

Ilmuwan Swiss, Dr. R. Brandstetter, yang mengadakan studi perbandingan bahasa-bahasa Indonesia, dalam bukunya Wir Menschen der Indonesischen Erde, (jilid IV) menulis tentang Die indonesischen Termini der schönen Künste and der künstlerisch verklärten lebensführung (1925). (lebih…)

Iklan

Riau sebagai salah satu sentrum daerah Melayu, tempat hidup dan kehidupan puak Melayu bahkan tujuan rantau rumpun bangsa Melayu merupakan daerah yang menjadi saksi bagaimana penduduknya membina bahasa, adat dan budaya Melayu, baik di berbagai wilayah great tradition kerajaan (Kuantan/Kandia, Keritang, Gasib, Segati/Sekati Lada, Pekantua-Kampar, Bunga Tanjung, Rokan, Rokan Pekaitan, Rokan Empat Koto, Bangko, Kubu, Tanah Putih, Kunto Darussalam, Tambusai, Siak Sri Indrapura Darl al-Salam al-Qiyam, Pelelawan dan Inderagiri) maupun di berbagai wilayah litle tradition dengan keanekaragaman dialek dan tradisi bersama-sama menjulang seni budaya yang bernama pantun.

Pantun di Riau tersebar dan terpelihara dalam berbagai bentuk rupa dan varian seni budaya, seperti bentuk umum Senandung/Dodoi terdapat diseluruh Kabupaten/Kota (dan sebutan khusus Nandung Indragiri Hulu, Nandung Talang Mamak, Baghondu-Kampar, Maunduo Anak-Rokan Hulu, Senandung menidurkan Budak di seluruh wilayah pesisir Riau).

Selain itu pada berbagai bentuk teater (Bangsawan, Mamanda, Randen, Randai), pada berbagai sastra lisan (Kayat, Koba, Tarombo, Nyanyi Panjang, Badenden, Madihin), pada upacara (Merisik, Merasi, Meminang, Hantar Belanja, Mengarak Pengantin, Buka Pintu, Buka Kipas, Bersanding, Tepuk Tepung Tawar, Menumbai, Monto, Sitawa-tawe, Basiacuong, Pantun Atuih), berbagai event (berbalas pantun, gelanggang pantun, laga pantun, jual-beli pantun, tanya-jawab pantun), acara seremonial, sambutan para Pemimpin/Pejabat Daerah, ceramah/dakwah dan percakapan sehari-hari pantun selalu jadi penghias seri bahasa. (lebih…)

TEMPO Interaktif, Jakarta: Jarum jam menunjukkan pukul 19.30 WIB. Busana warna jingga menyala bermotif batik dipadu sarung warna kuning emas yang dikenakan sembilan penari dari sanggar Seni Riau itu, menebar semarak ke seluruh ruangan. Hentakan gendang bertalu-talu beserta gesekan biola bernada riang dipadu dengan berbagai alat musik Melayu. (lebih…)

(SPN. Drs. Ahmad Darmawi, M.Ag)

Di dalam bahasa dan melalui bahasa warisan pengetahuan serta mutiara hidup nenek moyang kita tersimpan sehingga generasi yang datang kemudian tidak harus membangun peradabannya mulai dari nol. Transmisi atau alih perdaban dimaksud pada mulanya hanya mengandalkan medium atau mata rantai bahasa lisan, namun pada urutannya diperkuat lagi dengan bahasa tulis.

Lewat bahasa tulis, seorang penulis (sejarah) misalnya bisa merekonstruksi masa lalu untuk dihadirkan pada masa kini dan di sini (now and here). Jarak, ruang dan waktu bisa dipersempit dan bisa pula diperlebar oleh wawasan ilmu pengetahuan yang dikomunikasikan melalui bahasa. (lebih…)

(SPN. Drs. Ahmad Darmawi, M.Ag)

Secara kultural manusia lahir dan tumbuh dalam bahasa, tapi seringkali kita tidak kritis dan mampu mengambil jarak untuk meneliti kembali pertumbuhan dan perkembangan bahasa yang kita gunakan, adakah bahasa tumbuh sehat atauka sebaliknya. Ibarat udara yang kita hidup, bahasa juga terkena polusi yang pada urutannya akan mendatangkan polusi dan penyakit pada system berfikir baik level individual maupun sosal.

Mengingat manusia dan bahasa tidak dapat dpisahkan, maka sesungguhnya kualitas dan gaya bahasa seseorang merupakan indicator kualitas kepribadiannya serta kultur darimana ia dibesarkan. Benarlah ungkapan yang menyatakan: bahasa adalah cermin jiwa. Berbahasa yang baik adalah yang mampu mengungkapkan sebuah gagasan atau konsep yang jelas, teratur, indah, sehingga enak didengar dan tidak mudah menimbulkan salah faham. Kesalahfahaman bisa muncul dari pihak pembicara/penulis atau bisa pula dari pihak pendengar/pembaca aau mungkin pul dari terletak pada medium atau alat komunikasi yang digunakan memang tidak tidak mampu menampung dan meluruskan maksud atau gagasan dan fikiran. (lebih…)

(SPN. Drs. Ahmad Darmawi, M.Ag)

Tulisan atau skrip Arab Melayu (Jawi) berasal dari skrip Arab yang sampai ke Nusantara bersama-sama dengan kedatangan agama Islam di rantau ini. Skrip Arab tergolong dalam keluarga Semitik yang berasal dari cabang Semitik Utara yang kemudian menurunkan keluarga kecil Aramik dan seterusnya kepada Nabaten selanjutnya hingga menjadi skrip Arab.

Tentang kedatangan agama Islam ke Nusantara, ada dua pendapat yang memperkatakan arah kedatangan dan tarikhnya, antara keduanya saling melengkapi antara satu dengan yang lain. Syed Naquib al-Attas dalam bukunya Preliminary Statement on A General Theory of The Islamization of The Malay Archipelago,   menyebutkan tentang catatan pengembara Cina yang menyatakan bahwa pada tahun 55 H/674M, suda ada pemukiman orang Islam di Sumatra Timur (San Fu Cji = Sriwijaya = Palembang). (lebih…)

Oleh : Ahmad Darmawi

Pada naskah drama Peterakna, pentas politik Melayu dimulai dari rangkaian peristiwa imperium Melaka yang telah berhasil menegakan marwah dan martabat citra Melayu yang Islami selama dua abad (1384-1511 M) akhirnya hancur ketika adat resam yang bersendi syara’ tidak lagi jadi pegangan dan julangan para penguasa dalam menjalankan tugas kekhalifahannya sebagai zhilullah fi al-’alam, dibuktikan dengan rubuhnya Kota Melaka sebagai bandaraya terbesar dan terpadat penduduknya di dunia pada masa itu.

Pengalaman paling memalukan dalam sejarah Melayu sebagaimana yang dialami oleh Sultan Mahmud Syah I (Sultan Melaka terakhir), kembali terulang pada penguasa Kesultanan Johor (Sultan Mahmud Syah II: Sultan Mahmud Mangkat Dijulang). (lebih…)

Laman Berikutnya »