GambarTahun ini, tim panelis Anugerah Sagang mendaulat GP Ade Dharmawi sebagai Seniman/Budayawan pilihan Sagang. Penantian panjang itu pun berbuah manis.

GP Ade Dharmawi saat diwawancarai Riau Pos, Rabu (14/11), sembari berseloroh mengatakan, dirinya merasa bangga atas anugerah tersebut namun tidak terkejut. Pasalnya, ia sudah lima tahun berturut-turut sebagai nominator kategori pemuncak Anugerah Sagang.

‘’Habis ngidam. Saya merasa tersanjung atas kepercayaan Yayasan Sagang yang mendaulat saya sebagai peraih pemuncak anugerah ini. Tapi terus terang saya tidak terkejut lagi, sebab setiap tahunnya selalu merasakan harap-harap cemas saat pengumuman,’’ ungkapnya sembari melepas tawa.

Sejak Yayasan Sagang berdiri dan memberikan pula Anugerah Sagang, memang terbit harapan dalam diri Ade Dharmawi untuk bisa mencapainya.

Ada harapan dalam dirinya untuk meraih anugerah itu seperti para seniornya almarhum Idrus Tintin, Hasan Junus dan lainnya. Namun dalam waktu bersamaan, tumbuh pula kesadaran diri untuk mengukur bayang-bayang.

Artinya, hal itu bisa dicapai tapi tentulah pada suatu saat nanti.

Anugerah Sagang dan para senior yang meraihnya, menjadi pemicu bagi Ade Dharmawi untuk merintis perjalanan berkesenian dan mendalami budaya Melayu sebagai landasan hidup.

‘’Saya sudah berazam menikahi seni budaya dan telah menjadi bagian hidup saya hingga hari ini. Ditambah lagi keluarga mendukung penuh dan saya berterimakasih kepada mereka,’’ ucapnya.

Ade Dharmawi memang sudah berjanji dalam dirinya untuk memberikan yang terbaik dan lebih pada seni budaya Melayu. Setiap tahunnya, ia menghasilkan berbagai karya seperti buku-buku, karya penelitian dan naskah-naskah drama.

Untuk tahun ini, ia telah menyelesaikan karya penelitian berjudul “Peran Syeh Abdul Rahman Siddik, Mufti Kerajaan Indragiri sebagai Pemuka Agama dan Pengembang Ekonomi Rakyat”.

Selain itu, dia juga dalam proses meneliti “Pengetahuan Tradisional Masyarakat yang Berpotensi Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dalam Pembangunan Pariwisata di Provinsi Riau” serta meneliti dan mengumpul penelitian berjudul “Raja Pantun”.

Ade Dharmawi memang terbilang rajin membaca dan menulis, terutama tentang budaya masa lalu. Bahkan dia memiliki berbagai bank seperti bank ilham dan literatur, bank kata, bank judul, bank ide. Seluruh bank-bank itu menjadi pengingat dan catatan penting untuknya menghasilkan karya tulis.

‘’Setiap saat saya selalu membawa pena dan kertas. Ini cukup bermanfaat saat saya tiba-tiba mendapatkan kata, idiom lama yang tak terpakai lagi dalam bahasa ucap orang sekarang. Bahkan saat tak ada stok kertas, saya menyalinnya dulu di tisue untuk dipindahkan ke bank di komputer saya,’’ jelasnya panjang lebar.

Kata dan idiom lama itu bisa disaksikan dan dirasakan dari hasil karya-karyanya, baik puisi maupun naskah drama. Ade memang cukup rajin mengutip kata, idiom, pantun dan syair Melayu lama yang hari ini mulai tergerus. Dia mengumpulkan semua itu agar tidak lenyap dimakan waktu.

Sebelumnya, Ade Dharmawi juga pernah meraih Anugerah Sagang kategori buku pilihan dan komunitas asuhannya yakni Latah Tuah sebagai Institusi Budaya.

Ade Dharmawi juga pernah meraih Anugerah Seni Dewan Kesenian Riau (DKR) kategori percabangan seni teater.

Selain berkidhmat di UIN Suska Riau, dia juga dikenal sebagai peneliti budaya, sastrawan, aktor dan sutradara teater. Paling tidak, kerja kerasnya berbilang tahun patut dihargai dan diapresiasi bersama.(fia)

Pernah Diterbitkan di Harian Pagi Riau Pos Edisi 15 November 2012