Riau sebagai salah satu sentrum daerah Melayu, tempat hidup dan kehidupan puak Melayu bahkan tujuan rantau rumpun bangsa Melayu merupakan daerah yang menjadi saksi bagaimana penduduknya membina bahasa, adat dan budaya Melayu, baik di berbagai wilayah great tradition kerajaan (Kuantan/Kandia, Keritang, Gasib, Segati/Sekati Lada, Pekantua-Kampar, Bunga Tanjung, Rokan, Rokan Pekaitan, Rokan Empat Koto, Bangko, Kubu, Tanah Putih, Kunto Darussalam, Tambusai, Siak Sri Indrapura Darl al-Salam al-Qiyam, Pelelawan dan Inderagiri) maupun di berbagai wilayah litle tradition dengan keanekaragaman dialek dan tradisi bersama-sama menjulang seni budaya yang bernama pantun.

Pantun di Riau tersebar dan terpelihara dalam berbagai bentuk rupa dan varian seni budaya, seperti bentuk umum Senandung/Dodoi terdapat diseluruh Kabupaten/Kota (dan sebutan khusus Nandung Indragiri Hulu, Nandung Talang Mamak, Baghondu-Kampar, Maunduo Anak-Rokan Hulu, Senandung menidurkan Budak di seluruh wilayah pesisir Riau).

Selain itu pada berbagai bentuk teater (Bangsawan, Mamanda, Randen, Randai), pada berbagai sastra lisan (Kayat, Koba, Tarombo, Nyanyi Panjang, Badenden, Madihin), pada upacara (Merisik, Merasi, Meminang, Hantar Belanja, Mengarak Pengantin, Buka Pintu, Buka Kipas, Bersanding, Tepuk Tepung Tawar, Menumbai, Monto, Sitawa-tawe, Basiacuong, Pantun Atuih), berbagai event (berbalas pantun, gelanggang pantun, laga pantun, jual-beli pantun, tanya-jawab pantun), acara seremonial, sambutan para Pemimpin/Pejabat Daerah, ceramah/dakwah dan percakapan sehari-hari pantun selalu jadi penghias seri bahasa.

Berdasarkan hal ini, adalah patut dan pantas serta munasabah jika Riau ditabalkan sebagai negeri Kerajaan Pantun. Istilah kerajaan pantun yang menuntut adanya syarat wilayah, rakyat dan daulat sudah terpenuhi.

Rakyat Riau secara berterusan akan menurunkan tulisan SPN. Drs. Ahmad Darmawi, M.Ag (GP. Ade Dharmawi), seorang akademisi, budayawan, seniman dan sastrawan kebanggaan Riau berkenaan dengan seluk beluk, aneka bentuk, macam ragam pantun mulai dari Riau bahkan sampai melampaui wilayah Asia Tenggara, seperti Benua India dan Eropa.

Sebagai akademisi, Ade Dharmawi telah menulis buku: Pengantar Filsafat, Filsafat dan Misticisma Islam, Studi Filologi terhadap Metafor dalam Syair Ibarat dan Khabar Qiyamat. Hasil penelitian: Pengaruh Karya Sastra Religius terhadap Keberagamaan Pengarangnya di Pekanbaru, Analisis Perencanaan Pembangunan Budaya Melayu Riau untuk Mendukung Pencapaian Visi Riau 2020, Evaluasi Pelaksanaan Pembangunan Ekonomi dan Budaya Provinsi Riau, Sastra Lisan Nandung, Sastra Lisan Lamud, Budaya Tradisi Bulean.

Buku-buku seni budaya: Rus Abrus Tiga Dalam Satu, Sang Gelar dan Peterakna (Kumpulan Naskah Teater), Teater Bangsawan Melayu Riau, Syair Marhum Pekan: Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah – Pendiri Kota Pekanbaru, Syair Rokan Hilir, Syair Sri Gemilang, Syair Siak Sri Inderapura Dar al-Salam al-Qiyam, Karya Ilmiah: Durrat al-Ibrat fi Sya’ir ‘Ibarat wa Khabar Qiyamat li al-Syaikh ‘Abd al-Rahman al-Shiddiq al-Banjary: Dirasat ‘an al-Majaz fi Fanniy Adabiy ; The Pearl of Lesson in Syair Ibarat dan Khabar Qiyamat: A Study of Metaphor in Literature, Some Deviations in The Writing of The Malay Scripts ; Al-Akhrafat fiy Kitabat al-Ahruf al-‘Arabiyah al-Malayuwiyah, Prototype Perempuan Melayu Ideal: Analisis Teks Lagu Datin Suri Perdana.

Makalah/Kertas Kerja: Dimensi Sastra dalam al-Quran, Potensi Bahasa Melayu sebagai Bahasa Pergaulan di Kawasan SIJORI, Syair Ibarat dan Khabar Qiyamat Karya Tuan Guru Syekh Abdurahman Shiddiq: Eksploitasi, Rekonstruksi dan Konkritisasi Kata ‘Ibarat menjadi Sebuah Fakta, Raja Ali Haji : Imam Mazhab Bahasa Melayu, Masalah dan Permasalahan Aksara Arab Melayu, Etika dan Estetika Seni Budaya Melayu, Budi Bahasa Melayu, Membina bahasa dalam Pembangunan Seni Budaya, Membidani Kelahiran Manusia-manusia Baru Bedah Buku Antologi Puisi Kembali Dari Dalam Diri karya Prof. Dr. Ibrahim Ghaffar, Ph.D. Tulisan di berbagai Media Massa: Filsafat Iqra, Theatrum Cogito Ergo Sum: Olah Batin antara Akal dan Hati dari Jendela Seni, Dimensi Sastra pada Kisah-kisah dalam al-Quran, Bahasa al-Quran, Puisi sebagai L’Art Enggage dalam Sastra Melayu Riau, Perkembangan Tamadun dalam Alam Melayu, Memetik Buah Sastra dari Kebun Seni Bahasa al-Quran, Asal Muasal Huruf Arab Melayu dan Perkembangannya, Mengungkap Pemikiran Keagamaan dalam Karya Sastra.

Menyoal Visi Riau 2020: Jalan Menikung Aksara Arab Melayu, Keberaksaraan Arab Melayu, Arab Melayu – Sebuah Pengena lan Awal, Arab Melayu – Islamisiasi Bahasa Ucap dan Tulis, Korelasi Kedatangan Islam dengan Aksara Arab Melayu di Nusantara, Pemunculan Tulisan, Sistem dan Istilah Jawi, Justififikasi Pentingnya Arab Melayu I, II dan III, Arab Melayu – Aspek Bahasa dalam Tamadun Melayu I dan II, Arab Melayu – Antara Harapan dan Kenyataan I, II dan III, Arab Melayu – Keterbatasan dan Kekurangannya I, II, III dan IV, Arab Melayu dalam Harapan dan Kenyataan I dan II, Huruf X Arab Melayu I dan II.

Melalui tulisan GP. Ade Dharmawi mengenai pantun diharapkan dapat menambah wawasan dan mendatangkan manfaat bagi pembaca sekalian untuk bersama-sama mengukuhkan penabalan Riau sebagai negeri Kerajaan Pantun.

* tulisan ini pernah dipublikasikan di Harian Rakyat Riau