Dari mana asal kata pantun, cukup menarik untuk diperhatikan. Sebab puisi tradisional Melayu yang bernama pantun ini telah memainkan peranan yang begitu istimewa dalam perjalanan hidup orang Melayu. Ada dugaan kata pantun berasal dari akar kata tun yang mempunyai arti teratur.

Ilmuwan Swiss, Dr. R. Brandstetter, yang mengadakan studi perbandingan bahasa-bahasa Indonesia, dalam bukunya Wir Menschen der Indonesischen Erde, (jilid IV) menulis tentang Die indonesischen Termini der schönen Künste and der künstlerisch verklärten lebensführung (1925).

Menyatakan: kata Sunda pantun dia salurkan dari akar tun, yang juga ditemukan dalam bahasa Pampanga tuntun, ‘teratur‘. Apabila kata tuntun ditulis dengan aksara Arab Melayu, kita dapati huruf: ta-waw-nun-ta-waw-nun, selain dapat dibaca tuntun, juga dapat dibaca tonton (dalam bahasa Melayu Tagalok – Filipina mengandung arti: berbicara/membacakan menurut aturan tertentu). Jawa Kuno tuntun, ‘alur‘, atuntun, ‘dalam barisan‘, dan matuntunan, ‘membimbing‘, panton, ‘mendidik‘, dan bahasa Toba pantun ‘kesopanan; sopan-santun‘. Jadi akar tun menunjuk pada ‘yang teratur, yang lurus‘, baik konkret maupun abstrak.

Hoesein Djajadiningrat berkesimpulan bahwa arti kata pantun ialah bahasa terikat yang teratur atau tersusun. Disamping itu akar kata tun dalam dunia Melayu juga bisa berarti arah, pelihara, dan bimbing seperti diperlihatkan oleh kata tunjuk dan tuntun. Karena itu kata pantun dapat berarti sebagai sepasang bahasa terikat yang dapat memberi arah, petunjuk, tuntunan dan bimbingan.
Banyak pendapat mengenai asal dan makna pantun. Antara lain; makna pantun sama dengan umpama dalam masyarakat Batak. Kata pantun berasal dari kata pa-tuntun (penuntun) sebagaimana dikemukakan oleh Zuber Usman (dalam seminar Sejarah Minangkabau di Batusangkar tahun 1970).

Sementara A.A. Navis (1985) dalam bukunya Alam Terkembang Jadi Guru menjelaskan bunyi pa-tuntun menjadi pantun adalah hal yang lazim dalam bahasa Melayu, seperti halnya kata rumput-rumput menjadi rerumput dan laki-laki menjadi lelaki. Dengan demikian dapat disimpulkan; kata pantun merupakan bentukan dari asal kata tuntun yang mendapat awalan pe+tuntun = penuntun/panuntun, berarti pembimbing/penasehat yaitu yang memberikan bimbingan/nasehat dengan media puisi Melayu tradisional bernama pantun. Fungsi dan peran pantun sebagai penntun, beta sarikan dalam pantun:

Bukan sekedar, pokta ulama,
predikat uswatun, Qadi Shalatun;
Bukan sekedar, kata berirama,
hakikat pantun, jadi penuntun.

Menemui Zaitun, membawa katun,
dicakap mahal, belum ternama;
Melalui pantun, syara’ menuntun,
mengungkap prihal, hukum agama.

Ada sebuah puisi yang menjadi ghairah manusia Nusantara. Bentuk dan pengamalannya multi-budaya, multi-bahasa, multi-agama dan multi-ras. Orang Melayu, Banjar dan Minang menamakannya, pantun; orang Jawa menyebutnya pantung, parikan, atau wangsalan; orang Bali menamainya wewangsalan atau peparikan; orang Sunda menyebutnya sisindiran, sesebred atau susualan, orang Mandailing menyebutnya ende-ende, orang Aceh menyebutnya rejong atau boligoni; orang Ambon mengenalinya sebagai pantin; orang Sri Lanka dan Bugis/Makasar menyebutnya pantong. Sedangkan bentuk pengucapan lainnya: peparikan di Jawa, kayat di Kuantan-Riau, pepantunan di Bali, Nenggung di Palembang, dan Jantuk di Betawi. Sedangkan dalam kesusasteraan Barat mulai abad ke-19, dikenal dengan nama pantoum.

Dibandingkan dengan genre/jenis puisi rakyat lainnya, pantun merupakan puisi rakyat yang murni berasal dari kecerdasan linguistik local genius bangsa Melayu sendiri. Pantun adalah ekspresi yang cerdas dalam budaya Melayu. Kata demi kata sarat makna dan kiasan yang diungkapkan dalam khazanah tempatan. Antara sampiran dan isi tidak hanya sekedar ada kesamaan bunyi tapi mempunyai tautan kultural yang kontekstual.

Bentuk-bentuk pengucapan yang ada persamaan unsur dengan pantun digunakan, oleh tidak kurang dari 29 bahasa, termasuk Aceh, Gayo, Alas, Nias, 4 bahasa Batak – Toba, Mendailing, Simalungun; Lampung, Jawa, Sunda, Bali (Agha), Lombok, Bajau, Menado, Saluan, Kaili, Pamonma, Tanemperar, Sangihe-Talaud, Gorantalo, Bugis, Iranun, Iban, Bidayuh, dan Aslian.

Sementara itu tidak kurang daripada 35 dialek Melayu, termasuk Minangkabau, Kerinci, Deli-Serdang, Riau Pulau dan Riau Daratan, Palembang, Bangkahulu, Betawi, Sakai, Kutai, Banjar, Pasir, Sintang, Ketapang, Sambas, Hulu Kapuas, Cocos, Sri Lanka, Kutai, Melayu Menado, Melayu Kupang, Melayu Makasar, Banda, Ternate, Patani-Kelantan, Terengganu, Pahang-Johor-Melaka, Peranakan Melaka, Peranakan India (Ceti), Negeri Sembilan, Selangor, Perak, Kedah-Perlis, Pulau Pinang. Di Eropah pantun digunakan dalam bahasa Perancis, Inggeris, Belanda dan Jerman.

*Tulisan ini pernah diterbitkan di Harian Rakyat Riau