Tak Melayu Hilang di Bumi
Patah Tumbuh Hilang Berganti

Adat Teluk Timbunan Kapal
Adat Gunung Timbunan Kabut
Adat Lurah Timbunan Sampah
Adat Muda Menanggung Rindu
Adat Tua Menanggung Ragam

Adat Orang Senegeri Lebih Kurang Beri Memberi
Adat Berkawan Kena Mengena


Benarkah orang-orang Melayu Riau masih memegang teguh adapt-istiadatnya? Pertanyaan ini, memerlukan jawaban yang meyakinkan. Soalnya, secara politis, Riau bertekad dan mengklaim dirinya untuk menjadi pusat kebudayaan Melayu di Asia Tenggara, lewat Visi 2020 yang mulai sejak 2001 silam.

Pernyataan Riau sebagai Negeri Shahibul Kitab, sama sekali tidak bisa dimungkiri. Ratusan kitab-kitab lama masih tersimpan, hingga di tangan orang Melayu masa kini yang diwariskan secara turun temurun. Hanya saja, perawatan kitab-kitab beraksara Arab Melayu dan berbahasa Melayu itu, kurang optimal. Akhirnya, kitab-kitab aslinya sulit ditemukan, terutama di pasaran. Secara umum yang dapat ditemukan dan dibaca saat ini hanyalah buku-buku yang berasal dari kitab Arab Melayu berbahasa Indonesia.

Ironis memang. Tapi demikianlah kondisi yang terjadi. Seharusnya, buku-buku itu tetap dipertahankan dan dirawat secara baik. Sehingga anak cucu pendukung kebudayaan Melayu dapat dimanfaatkannya untuk mengetahui jati dirinya yang memiliki peradaban tinggi di masa lampau. Hanya saja, pembahasan ini hanya menyoal aksara Arab Melayu. Aksara yang kian asing di telinga orang Melayu sekarang. Karenanya, perlu pula diberi ruang dan peluang pada pemerhati aksara tersebut untuk menjelaskan segala tentang akasa itu secara terperinci. Sebab, hanya segelintir orang saja yang mau bertungkus lumus atau peduli pada keberadaannya, apatah lagi keasliannya.

Berkaitan dengan visi Riau 2020, sangat bijak bila secara politis pula Riau bertekad menjadi leader-nya pengembangan aksara Arab Melayu, paling tidak di Indonesia. Tujuannya, untuk mengangkat kembali aksara salah satu tamaddun kebudayaan Melayu ke permukaan. Apalagi orang Melayu Riau sendiri sudah banyak kehilangan pengakuan publik secara luas seperti bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu dan sebagainya. Jika warisan yang satu ini tidak segera dipatenkan, dikhawatirkan Riau akan didahului provinsi lain, bahkan Negara lain. Karenanya, perlu dirumuskan sebuah konversi dengan cara mengumpulkan orang0orang pandai yang memang memahami tentang aksara Arab Melayu tersebut.

“Konversi itu selayaknya dibuat dengan mengumpulkan ahli sastra, linguistic, filologi dan bahasa, bahkan ahli bahasa Arab. Rumusan para ahli inilah yang harus disepakati untuk mematenkannya,” ulas Seniman Pemangku Negeri (SPN) GP Ade Darmawi beberapa hari lalu.

Tanpa konvensi yang jelas dan serius, maka aksara Arab Melayu tidak akan bisa berkembang secara baik. Tanpa konvensi itu pula, aksara ini mengalami pergeseran yang tidak sesuai dengan aslinya. Tidak hanya itu, tanpa konvensi yang pasti membuat perkembangannya bisa menyalahi dan terkesan dipaksakan, untuk diadakan berbagai tempat seperti plang jalan, perkantoran dan lainnya. Jadi upaya yang untuk mempopulerkannya memerlukan dikung semua pihak agar aksara Arab Melayu benar-benar mejadi tuan rumah di rumah sendiri.

Sejarah Aksara Arab Melayu
Aksara Jadi atau lebih akrab di telinga orang Melayu dengan sebutan aksara Arab Melayu adalah modifikasi aksara Arab yang disesuaikan dengan bahasa Melayu di seantero Nusantara yang silam. Munculnya akasara ini merupakan akibat dari pengaruh budaya Islam yang lebih dulu masuk dibandingkan pengaruh budaya Eropa pada zaman kolonialisme. Aksara ini dikenal sejak zaman kerajaan Samudera Pasai, Kerajaan Malaka hingga Riau.

Berbicara tentang huruf atau aksara Arab Melayu yang dipergunakan sebagai skrip untuk bahasa Melayu di kawasan Asia Tenggara. Berarti bermula dari pembicaraan tentang peranan bahasa Arab sebagai komunikasi 150 juta orang Asia Barat dan Afrika Utara yang terdiri dari 22 negara (Liga Negara-negara Arab).

Di bawah paying agama Islam, bahasa Arab mempengaruhi sekaligus turut menentukan perkembangan bahasa Persia, Turki, Urdu, Melayu, Hausa, dan Sawahili. Bahasa Arab menyumbang menyumbang 40-60 persen kosa kata untuk bahasa tersebut. Atas dasar itu dapat dipertegas bahwa bahasa Arab merupakan bahasa religius 1 miliar muslim di seluruh dunia, yang diucapkan dalam ibadah sehari-hari. Bahasa ini pulalah menjadi julangan bahasa kebudayaan Islam yang diajarkan pada beribu-ribu sekolah di luar dunia Arab, mulai dari Segenal sampai Filifina dan dari daerah Balkan sampai ke Madagaskar.

Dalam hubungannya dengan dunia Melayu, khususnya Indonesia, di tengah warisan kebudayaan Indonesia masa lalu, yang dapat ditelusuri melalui naskah-naskah menunjukkan kuatnya pengaruh bahasa dan tulisan Arab. Kekayaan naskah itu mempunyai dimensi dan makna yang jauh lebih luas. Karena merupakan hasil tradisi yang melibatkan berbagai keterampilan sikap budaya orang Indonesia. Berbagai sitem tulisan yang dipakai di Indonesia sepanjang sejarah, baik tulisan tipe India, Arab, dan Latin, masih kabur sejarahnya. Sebagai contoh, belum diketahui secara jelas sejarah perkembangan dan penyebaran tulisan Arab Melayu (Pegon dalam istilah Jawa dan Jawo menurut istilah Aceh). Salah satu bahasa lokal yang paling banyak menerima pengaruh bahasa Arab, khususnya pada peristilahan dan aksara, adalah bahasa Melayu, yang kemudian diangkat menjadi bahasa nasional (Indonesia, Malaysia, Brunei).

Sejarah dan perkembangan aksara Arab Melayu di Nusantara berkisar antara tahun 1930-an sampai menjelang tahun 1980-an. Menghadapi gejala yang memprihatinkan ini, kerajaan Malaysia melalui Dewan Bahasa dan Pustaka Kementrian Pendidikan mengeluarkan kebijakan politik budaya menghidupkan dan mengembangkan kembali keberadaan aksara Arab Melayu (Jawi) secara nasional. Sedangkan di Indonesia pada rentang tahun yang sama mengalami kemunduran yang sangat mengkhawatirkan bahkan berada pada garis menuju kepunahan. Kalaupun ada buku-buku beraksara Arab Melayu yang beredar di Indonesia pada masa ini hanyalah sisa hasil cetakan lama dari penerbit/ percetakan seperti Al-Idrus (Jakarta; Maktabah wa Mathbaah Karya Thoha Putra, (Semarang), Maktabah wa Mathbaah Salim Nahban, Maktabah Muhammadiyah bin Ahmad bin Naharwa Auladuh, (Surabaya), Pondok Pesantren Rasyidiyah Khalidiyah. Pondok Pesantren Darus Salam Martapura, Toko Buku Amanah, Toko Buku Murdani (Banjarmasin), dan lain-lain.

Di Riau sendiri, banyak melahirkan penulis terkenal di dunai Melayu seperti Raja Ali Haji dan Syekh Abdurrahman Shiddiq serta perkumpulan para penulis yang tergabung dalam Rusydiyah Club. Saat itu Riau masyhur dengan sebutan negeri Shahibul al-Kitab, Bustan Al-Katibin, Bayt al Syuara, negeri seniman dan budayawan yang melahirkan karya keagamaan, politik, budaya, dan kesustraan beraksara Arab Melayu.

Pesat dan maraknya perkembangan keberadaan aksara Arab melayu di Riau sampai menjelang abad 20 juga ditopang oleh ketersediaan percetakan berupa litografi dan penerbit Mathbaah al-Riawiyah serta beberapa penerbit yang berdekatan dengan wilayah ini antara lain Mathbaah al-Ahmadiyah di Singapura, Al-Wathan di Kuala Lumpur. Bahkan Kerajaan Siak Sri Indrapura memiliki sebuah percetakan litografi bernama Babul Kawait pada masa Said Hasyim yakni Sultan ke-10.

“Selama 23 abad lamanya, Aksara Arab Melayu sudah berhasil menyelesaikan berbagai disiplin keilmuan. Tidak saja bidang agama, bahkan lebih luas seperti kesehatan hingga nujum atau perbintangan,” ujar dosen UIN Suska yang menjadi salah satu motor untuk menggairahkan kembali aksara Arab Melayu yang baik dan benar.

Hasil Sebuah Upaya Positif
Ade Darmawi yang sudah bersentuhan dengan aksara Arab Melayu sejak masih kanak-kanak ini merasakan manfaat atas jerih payahnya selama ini, berbuah manis. Tidak hanya mencari segala macam buku beraksara Arab Melayu ke berbagai daerah untuk dipelajari guna mengetahui perkembangannya dari waktu ke waktu, tapi juga mencoba menemukan formula berguna mengatasi kelemahan aksara tersebut. Lebih menarik lagi, Ade dkk memanfaatkan kemajuan teknologi seperti computer dan handphone. Paling tidak, saat ini dia sudah mengantongi program computer yang bisa dipakai untuk menghasilkan huruf-huruf Arab Melayu di dalamnya.

Produk atau tamaddun Melayu yang mengalami kemerosotan sejak 1980-an hingga saat ini, salah satunya adalah Arab Melayu. Padahal aksara tersebut menjadi identitas yang tidak seharusnya dilecehkan begitu saja. Karenanya, sejak tahun 1993 lalu, tercetus kembali pada Pertemuan Raja Ali Haji di Penyengat (kini, Kepri). Saat itu Ade Darmawi, Al Azhar dan Hasan Junus bertemu guna menemukan solusi terbaik untuk membangkitkan tamaddun tersebut. Lima tahun setelah itu, tepatnya 1998, bermodalkan Rp700 ribu, ketiga orang tokoh Riau, terutama dalam bidang kebudayaan tersebut membuat gerakan bawah tanah. Kenapa? Karena di masa itu, masyarakat tidak bisa melakukan perlawanan, sekecil apapun, maka mau tidak mau mereka pun bermain kucing-kucingan dengan aparat keamanan .

Mereka memperkenalkan kembali aksara Arab Melayu lewat plang-plang nama jalan dan tersebar di berbagai nama jalan Kota Bertuah Pekanbaru. Hal itu tentu saja melahirkan aksi pro dan kontra. Pihak yang pro tentu saja para seniman, budayawan dan pemerhati seni budaya. Sedang pihak yang kontra adalah pihak pemerintahan. Karena ketiganya memiliki kemampuan besar untuk mengembangkannya, mereka tidakmau berhenti dan terus bergeser meski larangan demi larangan terjadi.

“Biasalah, untuk membuat pembaruan, pemerintah selalu memerlukan Peraturan Daerah (Perda). Padahal, aksara tersebut milik kita sejak masa silamnya dank arena aksara itu pula, Riau melahirkan berbagai penulis handal. Saya teringat seorang kawan yang bernama Aamesa yang bergerilya memasang tulisan Arab Melayu di jalan-jalan kota ini,” kenang Ade Darmawi sembari melepas tawanya.

Setahun setelah gerakan bawah tanah yang dicetuskan ketiga orang tersebut, tepatnya 1994, Arab Melayu mulai mendapatkan tempat, terutama dalam dunia pendidikan. Buktinya, pada tahun itu, Arab melayu masuk ke sekolah-sekolah dan diajarkan kepada generasi muda. Tak lama bermunculanlah buku-buku beraksara Arab Melayu dan pengetahuan tentang Arab Melayu. Paling tidak, generasi 1990-an, sudah bersentuhan dengan Arab Melayu, meski hanya sepintas lalu. Hanya selang beberapa tahun, pihak pemerintah memberikan apresiasi pula pada aksara ini bersanding dengan nama jalan dan plang-plang perkantoran di lingkungannya.

“Gerakan kami ini membuahkan hasil sebab setelah itu, Arab Melayu tidak hanya diajarkan pada siswa-siswi di sekolah, tapi juga diabadikan pada plang nama jalan dan kantor di lingkungan pemerintahan,” ungkap peraih Anugerah Sagang 2008 kategori Buku Pilihan Sagang tersebut.

Arab Melayu Bukan Produk Biasa
Apa bukti aksara Arab Melayu bukan produk yang biasa-biasa saja? Karena Arab Melayu sudah menjadi salah satu mata pelajaran di sekolah-sekolah, bahkan kampus. Lantas kenapa harus diajarkan kepada anak-anak, jawabannya karena Arab Melayu merupakan jati diri yang tidak boleh dikuburkan seperti mayat.

Hanya saja, perkembangannya lambat laun justru melahirkan berbagai versi sehingga tidak sesuai lagi dengan versi aslinya. Barang kali, ketidakseragaman itu disebabkan Arab Melayu Riau tidak memiliki konvensi yang tegas, baik dalam kosa kata dan penulisannya. Tidak seperti Jepang, Korea, Cina dan Malaysia yang sudah mampan dan tidak berubah-ubah hingga saat ini. Di Negara-negara itu, bisa ditemukan aksara lokal mereka tidak hanya ditemukan di sekolah-sekolah dan lingkungan pemerintahan. Tapi sudah meranbah pada peralatan teknologi seperti komputer dan handphone.

“Coba saja kita lihat aksara dari produk Jepang, Cina Korea dan Malaysia bisa ditemukan aksara mereka di keyboard komputer, tombol-tombol handphone. Artinya, mereka memiliki kebanggaan yang besar untuk itu. Lantas kenapa kita justru membiarkan Arab Melayu terasingkan,” jelas Ade menegaskan maksudnya.

Ditambah lagi, di masa silan bahasa Arab Melayu beraksara Arab Melayu digunakan dari Sabang sampai Merauke. Bahasa ini dijadikan sebagai bahasa pemersatu bangsa Indonesia yang digunakan lintas suku dan ras serta ditegaskan pada Sumpah Pemuda 1028 silam. Wajar jika ditemukan pula adanya kitab Injil berbahasa Melayu dan beraksara Arab Melayu, tetapi bukan bahasa Arab.

Ade sendiri masih menyimpan tabloid cetakan Jakarta 2005 yang masih menggunakan aksara Arab Melayu. Bahkan 2004 lalu, masih ada pula percetakan di Surabaya yang mencetak dan mengedarkan buku-buku beraksara Arab Melayu. “Kita harus jujur mengakui, bahwa Arab Melayu bukan saja milik Riau semata. Tapi aksara itu sudah berkembang dan lahir secara baik di masa silam pada negeri Lancang Kuning ini,”

Mencari Solusi dari Kelemahan Arab Melayu
Ade Darmawi mengakui, aksara Arab Melayu memiliki kurang lebih 12 kekurangan dalam tata bahasa, ketimbang huruf latin dan aksara lainnya. Kelemahan ini bisa dilihat di buku-buku lama. Kelemahan itu disebabkan konsep orang dulu, cukup bisa terbaca tanpa memikirkan kosa katanya.

Kelemahan itu antara lain aksara Arab Melayu tidak mengenal huruf Kapital, ditulis dari kanan ke kiri, tak bisa menuliskan singkatan, rumus serta memiliki keterbatasan huruf. Huruf yang tidak dimilikinya antara lain X dan V. kenapa, sebab aksara ini tidak mampu mentransliterasi tulisan. Selain itu, Arab Melayu hanya menuliskan apa yang didengarkan saja.

Untuk mendapatkan solusi terbaik, yang memang diperlukan untuk mengembangkan Arab Melayu sudah pula dilakukan Ade dkk, sejak beberapa tahun terakhir ini. Salah satunya mencarai padanan, atas kelemahan itu. Meskipun, belum mendapatkan hasil maksimal, sebagaimana yang diinginkannya.

“Memang kita belum menemukan formula yang lengkap dari kekurangan-kekurangan itu. Tapi percayalah, jika konvensi sudah dibakukan dengan seksama, segala kesulitan bisa teratasi,” tambahnya.

Sebagai anak jati Riau, Ade dkk menemukan Arab Melayu 101. huruf-huruf Arab Melayu bisa diketikkan pada komputer yang lebih dulu disetting. Sayangnya, baru empat komputer saja yang bisa mengetik huruf Arab Melayu, itupun milik Ade dkk. Terdapat kelemahan pula di sini untuk menyebarluaskannya, yakni berhubungan dengan legalitas dan royalty di Mocrosoft. Jadi bukan hanya persoalan teknis. Artinya, untuk yang satu ini Ade dengan jujur mengatakan, keilmuan orang Melayu Riau saat ini belum sampai ke sana.

“Saya sudah pernah mempopulerkan huruf X di Riau Pos beberapa waktu lalu dengan membuat huruf Kaf bertitik tiga di bawahnya. Huruf itu sudah kami pakai hingga saat ini,” akunya.

Kesalahan Tak Boleh Dibiarkan
Sejak Arab Melayu mulai dipopulerkan, terjadi banyak sekali kesalahpahaman yang dibiarkan begitu saja. Selain salah tulis, juga tidak indah dipandang mata sehingga melahirkan keresahan sendiri, bagi orang yang memahami aksara Arab Melayu secara baik dan benar.

“Kita bisa lihat penulisan plang nama Bandara Sultan Syarif Kasim (SSK) II yang saya kira sangat memalukan. Kaedah penulisannya salah besar dan ini perlu dilakukan perbaikan sebab masih banyak lagi kesalahan yang dibiarkan begitu saja,” katanya meyakini.

Wajar jika elit politik dan pemerintahan di Riau yang resah, ujar Ade. Soalnya, para elit itu bolak balik ke bandara untuk urusan keluar kota, bahkan ke luar negeri. Karena itu Gubernur Riau HM Rusli Zainal SE MP memerintahkan kepada jajarannya untuk segera mengubah dan mengembalikan penulisan aksara Arab Melayu di lingkungan Pemprov Riau dalam tahun ini. Pemprov pun mempercayakan Ade dan salah seorang pengurus LAM Riau yang ahli dalam bidang itu untuk merumuskannya.

Lagi pula saat ini beberapa kabupaten sudah lebih dahulu melakukan pembaruan aksara Arab Melayu dan mempopulerkannya di nama jalan dan lingkungan pemerintahan seperti Inhil dan terutama sekali Siak. Untuk Siak sendiri, kata Ade, cukupgiat mengusahakannya. Bahkan penulisan Arab Melayu sampai pada nama-nama took dan salon-salon yang ada di sana,

“Pekanbaru sebagai pemakarsa pertama mempopulerkan kembali Arab Melayu mulai menggeliat untuk mengembangkannya. Hanya saja, tata bahasa, bentuk huruf dan materialnya perlu disamakan sehingga seragam dan tidak membingungkan orang ramai,” jelas Ade panjang lebar.

Ketidaksempurnaan tidak hanya terjadi pada nama jalan dan plang nama kantor, tapi juga buku-buku panduan sekolah. Paling tidak, instruksi Gubri tersebut menjadi dasar yang kuat bagi perkembangan Arab Melayu di Riau. Lagi pula, keingingan yang tulus disambut baik banyak pihak.

“Saya juga bersyukur diberi amanah yang besar untuk melakukan penyempurnaan tulisan Arab Melayu ini. Artinya, gayung sudah bersambut dan saya berharap setelah ini Pemprov lebih pro aktiv untuk mengembangkannya,” ulasnya.

Kumpulan bahan dan Orang Sebanyak Mungkin
Ade Darmawi mengumpulkan buku-buku beraksara Arab Melayu hingga saat ini. Jumlahnya sudah ratusan, baik buku, tabloid, Koran maupun bahan-bahan lainnya. Setiap bahan yang didapatnya, dijadikan bahan perbandingan. Ternyata, kata Ade, perubahan penulisan dan kosa kata di dalamnya kerap mengalami perubahan.

Selain itu, Ade juga mengajak guru-guru yang peduli pada tulisan Arab Melayu. Tujuannya untuk menggali pengetahuan dan berdiskusi guna mendapatkan formula yang dapat dijadikan acuan untuk kesempurnaan. “Saya kerap berkumpul dengan pemerhati aksara Arab Melayu untuk berdiskusi serta berbagi pikiran. Tidak hanya itu, kami juga kerap berbagi bahan-bahan yang baru didapatkan dari berbagai tempat,” ungkapnya.***
Sumber: Riau Pos, 21 Juni 2009