Oleh : Ahmad Darmawi

Pada naskah drama Peterakna, pentas politik Melayu dimulai dari rangkaian peristiwa imperium Melaka yang telah berhasil menegakan marwah dan martabat citra Melayu yang Islami selama dua abad (1384-1511 M) akhirnya hancur ketika adat resam yang bersendi syara’ tidak lagi jadi pegangan dan julangan para penguasa dalam menjalankan tugas kekhalifahannya sebagai zhilullah fi al-’alam, dibuktikan dengan rubuhnya Kota Melaka sebagai bandaraya terbesar dan terpadat penduduknya di dunia pada masa itu.

Pengalaman paling memalukan dalam sejarah Melayu sebagaimana yang dialami oleh Sultan Mahmud Syah I (Sultan Melaka terakhir), kembali terulang pada penguasa Kesultanan Johor (Sultan Mahmud Syah II: Sultan Mahmud Mangkat Dijulang).

Penyebab utama kehancuran karena pengaruh pengagungan rakyat yang terlalu berlebihan terhadap penguasa yang bertahta di atas peterakna sehingga tidak ada orang yang sanggup dan dapat berkata bahwa: yang benar benar itu benar dan yang salah itu salah. Sementara para penguasa tidak mampu mengawal diri dari godaan yang muncul akibat kekuasaan yang melekat pada dirinya. Tak kira apakah ia mampu dan pantas untuk menjabat sebagai penguasa atau tidak, tetapi karena silsilah dan nasablah mereka mewarisi kekuasaan tanpa dipersiapkan dan mempersiapkan diri sebagaimana halnya kebiasaan keturunan raja-raja yang ideal.

Hukum sebab akibat silsilah nasab menjadi faktor utama bagi sesiapa saja yang berhak menduduki peterakna. Hal inilah yang terjadi pada Raja Kecil sehingga perlu pengabsahan apakah ia keturunan Sultan Mahmud Mangkat Dijulang atau tidak —ketika ia menaklukkan Johor kemudian menduduki peterakna Johor dan Bentan selama lebih kurang empat tahun.

Upaya Raja Kecil untuk meneruskan kesultanan Melayu (Johor-Pahang; Johor-Riau dan Riau-Lingga) meskipun gagal, namun secara mengagumkan sejarah mencatat kegemilangan beliau karena berhasil mendirikan tapak Kerajaan Siak Sri Indrapura Dar al-Salam al-Qiyam sebagai kerajaan besar di kawasan Asia Tenggara setelah berakhirnya imperium Melaka dan Johor.

Naskah Peterakna merupakan kumpulan naskah yang terdiri dari delapan episode. Kesemua episode tersebut merupakan rangkaian cerita bertema kekuasaan dengan segala macam permasalahan yang melekat serta akibat yang ditimbulkan dari dan oleh kekuasaan.

Jawaban sementara yang dapat penulis jadikan sebagai perenungan adalah apabila seseorang memegang kekuasaan, maka ketika ia diuji dan dicoba oleh Allah, mampukah dia memegang amanah. Begitu pula sebaliknya, tidak sedikit orang yang berusaha merintis jalan baik langsung atau tidak langsung untuk memperoleh kekuasaan. Intinya, kekuasaan menjadi sesuatu yang sangat menggoda bagi setiap orang untuk mendapatkannya.

Kenapa orang begitu tergila-gila kepada kekuasaan. Hal ini terjadi karena sisi kuat-kuasa kemanusiaan menghendaki agar ketika berkuasa, seseorang dapat mengaktualisasikan diri dan kediriannya pada orang lain. Tujuan baik yang bisa dicapai dengan adanya kekuasaan adalah karena besar dan luasnya kesempatan untuk dapat merasa, berfikir dan berbuat untuk orang lain. Perasaan demikian sudah menjadi sunnatullah karena manusia pada dasarnya diciptakan sebagai Khalifatullah fil Ardh.

Allah memberikan rangsangan dalam bentuk pahala yang sangat besar bagi siapa saja penguasa yang dapat menjalan amanah, dibanding orang-orang biasa. Sebaliknya Allah memperingatkan dan mengancam dalam bentuk dosa yang sangat besar pula bagi siapa saja penguasa yang tidak dapat menjalankan amanah.

Dalam dunia Melayu khususnya di Riau, karena kekuasaan berhubung kait dengan amanah, maka setiap pemangku kekuasaan berarti didaulat dan mendaulat dirinya sebagai Setia Amanah.

Berbagai fasilitas dan kemudahan yang muncul akibat kekuasaan yang ada pada diri penguasa seharusnya menjadi washilah bagi diri dan keluarganya untuk melaksanakan tugas kepenguasaannya. Namun kenyataannya, tak sedikit orang yang berusaha untuk memperoleh kekuasaan harus mengorban banyak hal untuk mendapatkan kekuasaan dan setelah mendapat kekuasaan segala fasilitas yang ada bukannya menjadi washilah, melainkan menjadi ghayah (tujuan) sehingga menyebabkan dirinya tidak pernah sampai pada tujuan yang sebenarnya. Yaitu untuk memakmurkan bumi dengan keseluruhan hayati sebagai syarat mutlak untuk mewujudkan cita-cita mulia kemanusiaan menjadi insan kamil dan menjadikan negeri yang dipimpinnya sebagai al-Madinat al-Fadhilah.

Naskah drama Peterakna mengajak berbincang bincang dan memperbincangkan mengenai prihal bagaimana kekuasaan menjadi obyek yang senantiasa diperebutkan dengan berbagai macam cara dan pada ketika kekuasan tersebut telah berhasil diperoleh, setiap orang berusaha mengekalkan atau paling tidak berupaya memperpanjang masa kekuasaan sehingga ia dapat berlama-lama memanfaatkan dan menikmati segala macam fasilitas yang ada. Dalam kondisi dan situasi demikianlah banyak orang yang khilaf, cuai dan lalai bahkan buta mata hatinya sehingga tidak lagi mengenali insaniyah kemanusiaan; lupa diri sendiri dan lupa pada yang lain, bahkan lupa mengambalikan apa yang telah dan pernah dipakai atau diambil dari orang lain tanpa kebenaran. Di saat itulah kerajaan/negara menuju ke titik kehancuran, karena sebagaimana pepatah menyatakan: Ikan membusuk dimulai dari kepala.

Apakah terdapat persamaan persoalan politik di masa kesultanan Melayu dengan dunia politik hari ini, khususnya di Provinsi Riau sebagai bagian yang tak terpisahkan dengan sejarah masa lalu. Intinya tetap sama, yaitu kekuasaan. Perbedaannya, jika di masa kesultanan Melayu, perebutan kekuasaan terjadi antara kerabat dan keluarga Diraja, karena syarat mutlak untuk menjadi sultan adalah keturunan sultan pula. Sedangkan di masa sekarang, siapapun berhak menjabat dan memegang kekuasaan tertinggi, katakanlah gubernur/wali kota/bupati sebagai Datuk Setia Amanah Pucuk Adat Payung Negeri di Negeri Shahib al-Kutub ini, namun syaratnya tetap sama, yaitu sultan.

Yang dimaksud dengan sultan di zaman sekarang adalah kekuatan dan kemampuan yang secara makwani dapat diartikan sebagai, kekuatan politik dan kekuatan finansial disertai dengan kemampuan intelektual dan kemampuan manajerial. Persebatian kekuatan dan kemampuan tersebut merupakan syarat mutlak bagi sesiapa saja yang ingin menjadi sultan dalam bentuk jabatan gubernur/wali kota/bupati.

Karena dalam politik hari ini yang menjadi dasar adalah kedaulatan rakyat yang diimplementasikan dalam bentuk pemilihan melalui hak suara, maka siapapun yang berhasil memperoleh suara terbanyak, dialah yang akan memegang kendali kedaulatan yang di dalamnya terdapat kesatuan antara wilayat dan rakyat.

Lantas siapa yang pantas secara personal memimpin negeri Melayu ini. Orangtua-tua memberikan isyarat pemimpin sebagai berikut, yaitu: Tanda orang berakal adalah pada tindakannya, tanda orang berilmu adalah pada perkataannya. Selanjutnya, dengan ilmu dan harta manusia membangun kerajaan, tiada kerajaan yang dibangun dengan kebodohan dan kefakiran.

Sultan yang diperlukan oleh Riau hari ini adalah orang yang benar-benar siap  menyediakan dirinya untuk membela dan membéla, yakni orang yang sanggup condong yang akan menongkat dan rebah yang akan menegakkan masyarakatnya.***

SPN Drs Ahmad Darmawi MAg, budayawan Riau.
Tulisan ini pernah dimuat di Harian Riau Pos, Rabu, 24 September 2008