Syahdan. Sebermula kata. Ketika kita meneroka bahasa sebagai salah satu hasil budi dan daya ummat manusia, maka ketika itu kita mengakui bahwa umur bahasa sama tuanya dengan umur manusia. Dengan bahasa manusia bisa memperkatakan apa saja. Dengan bahasa manusia mengenal bangsa. Dengan bahasa pula manusia penuturnya dapat dipersatukan dalam suatu bangsa. Bahkan dengan bahasa pula kita dapat menilai budi, cipta, rasa dan karsa manusia.

Pentingnya keberadaan bahasa bagi ummat manusia tergambar pada pembelajaran pertama yang diterima oleh Adam a.s. sebagai bapak manusia adalah bahasa. Karena pentingnya bahasa, setidak-tidaknya sejak zaman Yunani kuno, minat orang telah dibangkitkan oleh banyaknya fungsi yang dimainkan bahasa. Para Filosuf Yunani memandang bahasa sebagai alat untuk mencari dan mengungkapkan kebenaran, untuk mengungkapkan hal-hal yang bersifat artistic dan untuk persuasive. Dalam pandangan hidup orang Athena pada abad ke-5, bahasa menjadi instrumen untuk mencapai tujuan tertentu, yang konkret dan praktis. Bahasa dianggap sebagai senjata ampuh dalam peraturan politik tingkat tinggi.

Pemahaman manusia tentang bahasa tergambar pula pada apa yang dinyatakan oleh William Shakespeare yang menekankan fungsi bahasa sebagai wahana untuk menyampaikan kebijaksanaan, memperoleh penghargaan, dan untuk meyakinkan. Kemudian para ahli linguistik kontemporer melanjutkan pembeberan pentingnya keberadaan bahasa dengan memberikan daftar yang lebih rinci mengenai fungsi social, psikologis dan politis bahasa.

Pada perkembangan selanjutnya makin disadari bahwa sebagai kata yang sangat tua – sama tuanya dengan sejarah ummat manusia itu sendiri, bahasa hadir bersamaan dengan sejarah social komunitas-komunitas yang dalam pengertian modern disebut masyarakat atau bangsa. Pemahaman mengenai bahasa menjadi hal pokok bagi setiap upaya penyelaman lautan makna kenyataan hidup masyarakat atau bangsa manusia. Manusia bersebati dengan dan dalam bahasa, bahasa menstruktur pengalaman dan pengalaman membentuk bahasa.

Bahasa bukan semata-mata alat komunikasi atau sebuah system kode atau nilai yang secara sewenang-wenang menunjuk suatu realitas monolitik. Bahasa adalah suatu kegiatan social. Secara social ia terikat, dikonstruksi dan direkonstruksi dalam kondisi khusus dan setting social tertentu, senyampang tertata menurut hokum yang diatur secara ilmiah dan universal. Karenanya, sebagai representasi dari hubungan-hubungan sosial tertentu, bahasa senantiasa membentuk subyek-subyek, strategi-strategi, dan tema-tema wacana tertentu.

Qaul al-Haq. Apabila kita mau membuka peta sosial budaya rumpun bangsa Melayu secara cermat dengan menggunakan kacamata matahari, kita akan menemukan beraneka warna bergaris-garis sebagai penegas jati diri kemelayuan yang tersebar pada salah satu zona tamaddun dunia yang bertapak mulai dari Kepulauan Okinawa di sebelah Utara sampai ke Kepulauan Salandia Baru di sebelah Selatan dan dari Madagaskar di sebelah Barat hingga sampai ke Kepulauan Paskah di sebelah Timur.

Semakin tinggi jarak penglihatan, maka garis tersebut semakin kabur dan warnanyapun paling membentuk konfigurasi yang paling tidak menunjukkan tiga hal, yakni: Budi bahasa yang indah menurut estetika, baik menurut etika dan benar menurut agama.

Begitu pentingnya kebaradaan budi bahasa dalam kehidupan bangsa Melayu di Asia Tenggara, menyebabkan bangsa ini memandang bahwa budi bahasa merupakan hati nurani manusia, merupakan hati bagi suatu tamadun bangsa sehingga ianya dipandang sebagai puncak keindahan dalam kehidupan manusia.

Kawasan Asia Tenggara merupakan salah satu wilayah dunia Islam yang menggunakan bahasa Melayu, baik lisan maupun tulisan. Luasnya penyebaran bahasa Melayu menjadikannya sebagai lingua franca dan seterusnya mengantarkan kedudukannya sebagai world View of Islam bagi ‘Uqala, ‘Ulama, ‘Umara dan Syu’ara di wilayah ini.

Besarnya pengaruh agama Islam terhadap bahasa Melayu tidak hanya dalam hal memperkaya kosa kata yang berasal dari bahasa Arab; huruf atau aksara yang dipilih untuk keperluan skrip bahasa Melayu-pun menggunakan huruf Arab (yang kemudian dikenal dengan huruf Arab-Melayu = huruf Jawi). Bahkan dalam bidang kesusastraan, terutama sastra Melayu klasik banyak pula dipengaruhi oleh Islam. Hal ini tampak kentara pada hasil kesusatraan Melayu klasik di dunia Melayu yang bercorak Islam sebagai taukid dari kesan langsung pengaruh perkembangan Islam di Asia Tenggara.

Sejalan dengan perkembangan agama Islam di kawasan Asia Tenggara, kesusastraan Melayu turut pula berkembang serta padat berisi pemikiran dan nilai-nilai yang Islami, terbukti dari bermunculannya Ulama-Penyair seperti Hamzah Fansuri, Samsuddin al-Sumatrani, Abdul Rauif Singkel dan Nurrudin Al-Raniri. Sedangkan di wilayah Riau tercatat nama Raja Ali Haji dan Syekh Abdurrahman Shiddiq al-Banjari.

Keindahan dan kelembutan bahasa Melayu, bukan saja dapat dirasakan oleh penuturnya, tetapi juga oleh pendengarnya, meskipun penutur dan pendengar tersebut bukan bangsa Melayu.
Keindahan dan keagungan bahasa Melayu, pernah digambarkan oleh cendikiawan dan pengembara Barat, sebagai contoh Jan Huyghen van Linschoten (Belanda) yang pernah tinggal di Indonesia antara 1486-1592, berpendapat sebagaimana yang dikutip oleh Ismail Hussein: bahwa bahasa Melayu itu bukan sahaja sangat harum namanya, tetapi bahasa itu juga dianggap bahasa yang sehormat-hormatnya di antara bahasa negeri Timur dan bahwa orang yang tiada tahu bahasa itu di Kepulauan Melayu dapatlah dibandingkan dengan orang yang tiada tahu bahasa Prancis di negeri Belanda pada zaman itu.

Menyadari akan keindahan dan keagungan bahasa Melayu, orangtua-tua mengungkapkan:
Yang kurik ialah kundi
Yang merah ialah saga
Yang baik ialah budi
Yang indah ialah bahasa
Tingkap papan kayu bersegi
Sampan sakat di pulau angsa
Indah tampan karena budi
Tinggi bangsa karena bahasa.

Bangsa Melayu sebagai pendukung tamadun Melayu di kawasan Asia Tenggara dikenal dengan tiga macam cirri utama, yaitu: Melayu bahasanya, Melayu adat istiadatnya dan Islam agamanya.
Unsur budaya yang paling menonjol dari bangsa ini adalah Bahasa Melayu. Luasnya penyebaran bahasa Melayu menjadikannya sebagai Lingua Franca. Terpakainya bahasa Melayu antar puak dan suku yang tergolong dalam keluarga bahasa Austronesia dalam bangsa Malay Polynesia di Asia Tenggara diperkuat oleh pengaruh adat dan agama Islam sebagai dua system yang mendasar bagi kehidupan orang Melayu. Hal ini terbukti dari banyaknya kosa kata bahasa Melayu yang diperkaya dari kata-kata yang berasal dari istilah agama Islam serta warna sastra Melayu klasik berkembang dengan muatan yang sarat dengan nilai-nilai Islami.

Keberadaan bahasa Melayu, meskipun bermula dari bahasa yang sederhana, namun dalam perkembangan dan penyebaran bahasa Melayu  melingkupi kehidupan penduduk Asia Tenggara, karena bila dibanding dengan bahasa-bahasa yang ada di Asia Tenggara , bahasa Melayu tergolong bahasa yang yang simple dan mudah dilafadzkan oleh setiap suku di Nusantara. Perkembangan awal yang dimulai dari daerah pulau, pesisir pantai dan aliran sungai yang disinggahi oleh pelaut dan pedagang dan kemudian menjadi kota pelabuhan telah menghantarkan bahasa Melayu sebagai bahasa yang tetap terpelihara sampai sekarang. Meskipun  dari berbagai wilayah dunia Melayu telah terpecah disebabkan perbedaan geo politik yang melahirkan bangsa dan negara (Indonesia, Malaysia, Singapura dan Brunei Darussalam), bahasa Melayu tetap menjadi bahasa pengantar antar bangsa.

Dari berbagai nilai yang tumbuh dan berkembang dalam hidup dan kehidupan bangsa Melayu, maka nilai budi bahasa merupakan anasir yang paling menonjol. Menegakkan marwah dan martabat Melayu diantara tamadun dunia adalah dengan menegakkan nilai-nilai keindahan-kebaikan dan kebenaran yang terdapat dalam bahasa Melayu. Latar belakang bahasa Melayu mampu menempati posisi yang demikian strategis dari aspek nilai budaya, ekonomi, politik dan agama, karena bahasa Melayu diperkaya antara 40-60 % kosa kata  berasal dari bahasa Arab yang merupakan bahasa agama Islam.

Kedudukan bahasa Melayu dalam wilayah zona budaya Islam, menempati urutan kedua paling banyak penturnya setelah bahasa Arab dan menempati urutan ketujuh dari bahasa-bahasa besar dunia.

Aspek keindahan bahasa Melayu dapat dikesan dengan mudah pada karya kreatif berupa kesusastraan. Aspek kebaikan etika terasa lembut pada pengucapan yang santun. Sedang aspek kebenarannya pada perbancuhan akulturasi linguistic terhadap bahasa Arab.

(Oleh: SPN. Drs. Ahmad Darmawi, M.Ag)