(SPN. Drs. Ahmad Darmawi, M.Ag)

Di dalam bahasa dan melalui bahasa warisan pengetahuan serta mutiara hidup nenek moyang kita tersimpan sehingga generasi yang datang kemudian tidak harus membangun peradabannya mulai dari nol. Transmisi atau alih perdaban dimaksud pada mulanya hanya mengandalkan medium atau mata rantai bahasa lisan, namun pada urutannya diperkuat lagi dengan bahasa tulis.

Lewat bahasa tulis, seorang penulis (sejarah) misalnya bisa merekonstruksi masa lalu untuk dihadirkan pada masa kini dan di sini (now and here). Jarak, ruang dan waktu bisa dipersempit dan bisa pula diperlebar oleh wawasan ilmu pengetahuan yang dikomunikasikan melalui bahasa.

Kelebihan bahasa tulis. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa ; orang yang terbiasa menulis tata fikirannya relative akan menjadi lebih sistematis karena dalam bahasa tulis, seseorang dituntut menghindarkan banyak pengulangan, dituntut menggunakan tata bhasa yang benar dan lebih bertanggungjawab akan apa yang ditulisnya. Berbahasa yang teratur dan komunikatif hanya bisa dilakukan oleh mereka yang secara konseptual menguasai masalah yang dibicarakan dan mahir merangkai symbol bahasa dalam bentuk huruf secara efektif dan efisien.

Pepatah lama menyatakan bahasa menunjukkan kualitas pembicara atau bila diperluas lagi bahasa menunjukkan bangsa. Artinya; kepribadian seseorang atau bangsa bisa diamati dan dianalisa dari tutur katanya, dari bacaan yang digemarinya serta muatan fikiran yang terdapat dalam bahasa tulis, juga dari karakter bahasa yang ada karena setiap bahasa memiliki muatan filsafat yang akan membentuk sifat masyarakatnya dan pada urutannya secara dialektis karanter masyarakat akan membentuk karakter bahasa.

Dari bahasa lisan ke bahasa tulis/cetak. Dalam masyarakat modern terdapat anggapan bahwa budaya tulis baca (writing and reading) merupakan perkembangan lanjut dan lebih tinggi dari budaya bicara-dengar speaking and listening). Bahkan antropolog sering membuat kategori antara oral culture versus literate culture atau antara oral tradition dengan written tradition. Kategori ini diperkuat oleh para sejarawan yang membedakan antara masa pra-sejarah dengan sejarah. Masa pra-sejarah ialah tahap kehidupan manusia yang belum mengenal tulis-baca sehingga sejarawan sulit menelusuri dan mengenal mereka.

Pendeknya, budaya tulis-baca merupakan indicator maju-mundurnya sebuah peradaban manusia sehingga istilah buta huruf memiliki konotasi negative dan terkebelakang. Kebenaran anggapan ini tidak perlu diragukan lagi karena sejarah sudah terlalu jelas menunjukkan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan maupun penyelenggaraan hidup berbangsa; bernegara bahkan hubungan internasional tidak akan mengalami kemajuan sedemikian rupa jika tidak didukung oleh bahasa tulis dan mesin cetak.

Perkembangan huruf Arab Melayu di Nusantara mengalami puncaknya pada masa berkembangnya percetakan. Skrituralisme ortodoks Islam mulai menemukan momentumnya di “negeri-negeri bawah angin” pada abad ke-17, terutama sebagai hasil kemunculan  ulama-ulama Jawi yang kembali dari belajar di Timur Tengah.

Para penyebar Islam menyandarkan otoritas sacral pada masa revolusi keagamaan (religius revolution), di mana lebih dari separuh penduduk kepulauan Melayu  melakukan konversi keagamaan kepada Islam  (pada masa perdagangan yang bermula sejak tahun 1400-an hingga mencapai puncaknya pada tahun 1570-1630: Sedangkan perubahan keagamaan secara cepat dan besar-besaran terjadi antara 1550-1650).

Para penyebar dan spesialis agama Islam menghasilkan teks-teks baru dalam berbagai bahasa Asia Tenggara dengan menggunakan huruf Arab Melayu. Teks-teks yang ditulis umumnya ditulis untuk menyampaikan ajaran agama Islam dalam bentuk yang mudah difahami dan dihafal oleh para penganut baru (muallaf) ketika itu. Tetapi teks-teks tersebut bagaimanapun, tetap lebih banyak digunakan hanya oleh para terpelajar. Karena itulah hafalan menjadi sangat penting bagi para penganut baru yang demikian banyak jumlahnya. Hafalan tersebut ditekankan untuk kepentingan pelaksanaan ibadah rutin seperti shalat.

Meskipun wilayah muslim Kepulauan Melayu secara cultural kurang terarabisasi, namun bahasa Arab memainkan peranan penting dalam kehidupan social keagamaan kaum muslimin. Berbagai suku rumpun Melayu tidak hanya mengadopsi peristilahan Arab (Islam), tetapi juga aksara Arab  yang kemudian berkembang setelah disesuaikan dengan kebutuhan lidah local. Dari aspek ini, keberadaan Islam dan penerimaan aksara Arab merupakan langkah signifikasi bagi penduduk kepulauan Melayu untuk masuk ke dalam budaya tulis dan literacy.

Salah satu bahasa local yang paling banyak menerima pengaruh bahasa Arab , khususnya dalam peristilahan dan aksara, adalah bahasa Melayu, yang kemudian diangkat menjadi bahasa nasional (Indonesia, Malaysia, Brunei). Cyril Skinner (dalam The Influence of Arabic upon Modern Malay), mengemukakan bahwa pada tataran leksikal, bahasa Arab (kosa kata atau peristilahan) sangat mempengaruhi bahasa Melayu. Hal ini terbyukti dari beberapa hasil penelitian:

1.    Abdul Hamid Ahmad, dalam Kamus al-Hamidi, mencatat daftar sekitar 2000 kosakata bahasa Arab yang digunakan dalam bahasa Melayu.
2.    Muhammad Said, dalam Guguskata Arab Melayu, mencatat sejumlah 1.725 kosakata bahasa Arab dalam bahasa Melayu.
3.    Muhammad Sanusi ibn Haji Mahmood, dalam Kamus Istilah Islamiyah, mencatat sekitar 2.000 kosakata bahasa Arab..
Sementara kalangan Barat, maupun kamus Melayu Kontemporer:
1.    James Howison, dalam A Vocabulary of the Malay Tongue – London: 1801, mencatat hanya 150 kosakata Arab dalam lidah Melayu.
2.    W.G. Shellabear, dalam A Malay-English Dictionary, Singapore 1902. mendaftar sebanyak 385 kata.
3.    F.A. Swettenham, dalam Vocabulary of English and Malay Languages, Singapore 1910. hanya mencatat 219 kata.
4.    R.O. Winstedt dan Dato Muda Linggi, dalam Kitab Loghat Melayu, Singapore 1921, mencatat sebanyak 1.001 koasakata Arab yang dipergunakan dalam bahasa Melayu.
Sedangkan pada masa mutakhir:
1.    R.J. Wilkinson, dalam An Abridged Malay-English Dictionary – Romanized, Revised and Enlarged by A.E. Coope and Mohd. Ali Ibn Mohamed, London, 1961, mencatat 892 kata pinjaman Melayu dari bahasa Arab.
2.    R.O. Winsted, dalam A Practical Modern Malay Inglish Dictionary, Kuala Lumpur; 1964, mencatat sebanyak 892 kata.
3.    Tengku Iskandar, pada Kamus Dewan, Kuala Lumpur: 1970, mencatat sebanyak 1.100 kata.
4.    Mohd. Kadir, et-al., Kamus Kebangsaan, Kuala Lumpur; 1975 mendaftar sebanyak 1.125 kosakata.
5.    Sudarno. Kata Serapan dari Bahasa Arab, Jakarta; 1992, mencatat 2.302 kata bahasa Arab dalam bahasa Indonesia.