(SPN. Drs. Ahmad Darmawi, M.Ag)

Secara kultural manusia lahir dan tumbuh dalam bahasa, tapi seringkali kita tidak kritis dan mampu mengambil jarak untuk meneliti kembali pertumbuhan dan perkembangan bahasa yang kita gunakan, adakah bahasa tumbuh sehat atauka sebaliknya. Ibarat udara yang kita hidup, bahasa juga terkena polusi yang pada urutannya akan mendatangkan polusi dan penyakit pada system berfikir baik level individual maupun sosal.

Mengingat manusia dan bahasa tidak dapat dpisahkan, maka sesungguhnya kualitas dan gaya bahasa seseorang merupakan indicator kualitas kepribadiannya serta kultur darimana ia dibesarkan. Benarlah ungkapan yang menyatakan: bahasa adalah cermin jiwa. Berbahasa yang baik adalah yang mampu mengungkapkan sebuah gagasan atau konsep yang jelas, teratur, indah, sehingga enak didengar dan tidak mudah menimbulkan salah faham. Kesalahfahaman bisa muncul dari pihak pembicara/penulis atau bisa pula dari pihak pendengar/pembaca aau mungkin pul dari terletak pada medium atau alat komunikasi yang digunakan memang tidak tidak mampu menampung dan meluruskan maksud atau gagasan dan fikiran.

Dalam pengertian umum, bahasa adalah percakapan. Bahasa muncul tatkala bunyi dan ide tampil bersama dalam suatu percakapan ataupun wacana (discourse) yang merupakan suatu aktivitas pembicaraan yang bersifat dialogis yang memiliki kualitas serta komitmen intelektual untuk memperoleh kebenaran bersama. Dalam tindakan berbahasa terdapat berbagai variable yang yang melekat, antara lain; variable psikis, ide, gerak fisik, jaringan saraf, bahkan juga system nilai tempat sebuah bahasa tumbuh dan berkembang.

Teori tentang asal usul bahasa telah lama menjadi objek kajian para ahli, sejak dari kalangan psikolog, antropolog, filosuf maupun teolog sehingga lahirlah sub-sub ilmu ilmu dan filsafat bahasa, seperti: fonologi, semantic, gramatika, psikolinguistik, neurolinguistik, antropolinguistik, sosiolinguistik, sastra, semiotika dan hermeneutic.

Karena sifatnya yang spekulatif, maka teori mengenai asal usul bahasa telah berkembang sedemikian rupa mulai dari yang bersifat ilmiah, ideologis-rasialis sampai kepada yang bernuansa mitos. Pendukung aliran teologis mengatakan; manusia bisa berbahasa karena anugrah Tuhan dan pada mulanya Tuhan yang mengajarkannya kepada Adam a.s. nenek moyang manusia.

Teori naturalis, beranggapan bahsa kemampuan manusia berbahasa merupakan bawaan alam, sebagaimana kemampuan untuk melihat, mendengar maupun berjalan. Manusia secara spontan ketika berinteraksi dengan lingkungannya, terutama ketika mendengar suara alam. Teori konvensionalistik, menyatakan bahasa berawal muncul sebagai produk social. Ia merupakan hasil konvensi yang disepakati kemudian dilestarikan oleh masyarakatnya

Meskipun ketiga teori tersebut masing-masing memiliki argument yang logis, namun ketiganya tetap masih spekulatif dan terbuka bagi munculnya kritik serta teori baru Dengan medium bahasa maka manusia memperluas dunianya. Benda-benda, keadaan sekitar serta orang-orang disekelilingnya diberi nama sehingga manusia menciptakan jaringan serta membangun makna-makna. Di dalam tindakan berbahasa sebenarnya seseorang berbicara kepada dua obyek, yaitu kedalam, berbicara kepada diri sendiri, dan keluar, kepada orang lain. Dengan demikian, bahasa merupakan medium ekspresi dan eksternalisasi nilai-nilai serta informasi. Berbeda dengan dunia hewan-bahasa telah memungkinkan manusia keluar dari dunia insting kedunia refleksi dan makna.

Meskipun bahasa kelihatannya abstrak, karena berupa gagasan, ekspresi perasaan dan kata-kata, namun memiliki kekuatan yang sangat besar dan berpengaruh secara riil dalam kehidupan dan bahkan bisa menciptakan revolusi sosial.

Kemudian peran bahasa dalam konteks social yang paling menyolok adalah dalam memlihara identitas dan kohesi masyarakat atau bangsa. Suatu bangsa mampu menyelenggarakan tertib social dan melakukan komunikasi politik karena adanya kesamaan bahasa dan komunikasi ini semakin efektif ketika ditemukannya bahasa cetak serta teknologi yang mempercepat komunikasi jarak jauh.

Dalam hal ini fenomena bangsa dan bahasa Indonesia sangat menarik untuk dikaji. Sebuah penghargaan tak ternilai layak diberikan kepada pahlawan yang secara gigih membina dan mengembangkan bahasa Melayu serta memperjuangkannya menjadi bahasa nasional. Dengan diterimanya bahasa Melayu sebagai bahasa nasional dan ditambah lagi dengan proses penyebarannya yang demikian cepat, maka umur republic yang relative muda secara gemilang telah berhasil menciptakan sebuah kesatuan dan wawasan nusantara, suatu prestasi politik kebudayaan yang mengagumkan.

Kohesi nasional yang mampu merakit pluralitas etnmis dan bahasa local kedalam kesatuan nusantara dibawah paying bahasa Indonesia secara cultural keagamaan diperkokoh lagi oleh hegemoni Islam sebagai agama yang dipeluk oleh mayoritas. Sekali lagi dari sisi kohesi budaya – peran bahasa Indonesia dan Islam memiliki fungsi yang sangat vital bagi terpeliharanya kesatuan nusantara sehingga tidak terjadi konflik antarsuku sebagaimana yang menggejala di belahan bumi lain hanya disebabkan pertikaian dalam bidang bahasa.

Dengan medium bahasa dunia manusia dirawat dan secara konseptual dikembangkan dan diwariskan. Adalah tepat pernyataan Socrates sejak enam ribu tahun yang lalu, bahwa ke-khas-an manusia yang sangat mendasar dan yang membedakannya dengan hewan adalah kemampuannya dalam berbahasa, yang substansinya adalah berfikir dan berbicara.

Dalam kasus bahasa Indonesia, jumlah populasi penggunanya semakin bertambah, sementara pengguna bahasa daerah bisa jadi prosentasenya mengecil. Pada satu sisi hal ini mempunyai nilai positif, yaitu untuk memperkokoh integritas nasional. Sedang disisi lain ada negatifnya; anak-anak yang tumbuh dalam asuhan bahasa daerah tentu lebih mudah menghayati nilai-nilai warisan orangtuanya yang memiliki keutamaan tertentu, suatu khazanah budaya yang sulit ditemukan oleh mereka yang hanya mengenal bahasa Indonesia yang berciri urban. Jika suatu saat bahasa bahasa Indonesia masuk ke seluruh desa dan pelosok dan menggeser dominasi bahasa daerah, mungkin sekali akan terjadi pergeseran nilai, tata fakir dan hubungan atau komunikasi yang telah berlangsung selama ini. Sulit dipungkiri bahwa bahasa juga berperan semacam institusi untuk mengawetkan sebuah tradisi serta memelihara solidaritas kelompok.

Dengan berkembangnya tradisi tulisan yang memperoleh dukungan kuat dari teknologi percetakan modern, maka bahasa tulis cendrung menggeser  tradisi lisan dalam komunikasi keilmuan. Perkembangan ini sekaligus juga menghantarkan  kebangkitan faham strukturalisme dimana subyek menjadi hilang dan teks cendrung otonom. Wacana keagamaan yang pada mulanya sangat mengandalkan bahasa lisan kini mulai diintervensi oleh bahasa tulis yang lebih menitik beratkan langue ketimbang parole. Langue adalah abstraksi dan artikulasi bahasa pada tingkat social budaya – sedangkan parole merupakan ekspresi bahasa pada tingkat individu.