Bahasa Arab dalam bentuk klasiknya adalah Ursemitisch atau bahasa asli yang menjadi sumber dari berbagai bahasa Semit, dan dari bahasa asli inilah ragam bahasa Semit muncul sesuai dengan tingkat pengalaman pengguna bahasanya.

Bahasa-bahasa Semit memiliki abjad yang menjadi penegas perbedaannya dengan bahasa lain. Dari aspek fonetik  rumpun bahasa Semit terdiri dari:
a.  Enam gutural (=suara gerau/tekak): a, h, j, kh, ‘, gh;
b.  Dua palatal (=didekatkan ke langit-langit): k, j;
c.  Dua labial (=bibir): p, b;
d.  Lima  uvular (diucapkan dengan getaran anak lidah): q, th, zh, sh, dh;
e.  Dua linguo-dental (=lidah-gigi): t, c/sy;
f.  Tiga sibilant (=bunyi berdesis): ts, s, z;
g.  Enam liquid (=konsonan): r, y, l, w, m, n. dan
h.  Enam spiran : m, g, t, d, p, b.

Khusus untuk abjad bahasa Arab, menurut qaidah Baghdadiyah terdiri dari 30 huruf, yaitu: Alif, Ba, Ta, Tsa, Jim, Ha (h-tipis), Kha, Dal, Dzal, Ra, Zai, Sin, Syin, Shat, Dhat, Tha, Zha, ‘Ain, Ghein, Fa, Qaf, Kaf, Lam, Mim, Nun, Waw, Ha (h-tebal) Lam-Alif, Amzah dan Ya. Sedangkan bentuk huruf yang melambangkan bunyinya melebihi tiga puluh, karena huruf Kaf (ada dua bentuk), lambang bunyi Ta dan Ha (h-tebal) apabila di akhir kata dapat dilambangkan dengan huruf Ta Marbutah, huruf Amzah tidak bisa berdiri sendiri melainkan harus bersandar pada huruf Alif, atau Waw maupun rumah huruf Ya tanpa titik.

Dalam kosa kata asli bahasa Melayu, tidak ada lambang bunyi huruf: Tsa, Ha (h-tipis), Kha, Dzal, Zai, Syin, Shat, Tha, Zha, ‘Ain, Ghein, Fa, Qaf dan Amzah. Jika dalam bahasa Melayu ditemui pada skripnya huruf-huruf tersebut, maka dapat diduga bahwa kata tersebut merupakan kosa kata bahasa Arab yang diserap oleh bahasa Melayu.

Ketika huruf Arab dijadikan skrip untuk menulis atau mengeja bahasa Melayu dan kemudian dikenal dengan sebutan aksara Arab Melayu atau Jawi, karena adanya keterbatasan dan kekurangan abjad aksara Arab, lalu lahirlah beberapa huruf tambahan yang merupakan khas Arab Melayu, yaitu: C (huruf Ha tipis titik tiga di bawah), Ng (huruf ‘Ain titik tiga di atas), P (rumah huruf Fa titik tiga di atas), G (huruf Kaf titik satu di atas) serta Ny (rumah huruf Ya titik tiga di atas).

Meskipun telah ada upaya penambahan huruf khas Melayu pada aksara Arab Melayu sebagaimana yang terdapat pada Batu Bersurat Terengganu, namun karena kosa kata bahasa Melayu dari masa ke masa senantiasa mengalami perkembangan dan penambahan serta keperluan transliterasi terhadap kata-kata bahasa Asing (Eropah, Rusia, Cina dan India) yang semakin kompleks, masih ada dua huruf Rumi (Latin) yang belum ada padanannya dalam aksara Arab Melayu, yaitu huruf V dan X.

Ketiadaan padanan kedua huruf tersebut di dalam sistem ejaan dan tulisan Arab Melayu menyulitkan bagi para Leksikograf dan Transliterer serta para penulis dalam menulis kosa kata yang menggunakan huruf V dan X secara tepat. Untuk persoalan huruf V, dalam tulisan Arab dilambangkan dengan huruf Ba, sebagai contoh, kata vasio dalam tulisan Latin ditransliterasi menjadi basio dalam tulisan Arab, karena bunyi huruf V mendekati bunyi huruf Ba pada pengucapan orang Arab.  Pada tahun 1986, Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia, melalui Pedoman Ejaan Jawi Yang Disempurnakan menambah satu lagi huruf khas aksara Arab Melayu, yaitu dengan memadankan huruf V dengan huruf Waw yang diberi titik satu di atas.

Menurut analisa penulis, dipilihnya huruf Waw yang diberi satu titik di atasnya (hampir menyerupai huruf Fa) sebagai padanan lambang bunyi/huruf V cukup munasabah, karena tulisan nirvana dalam ucapan  terdengar seperti huruf Waw (karena dapat dibaca dengan ejaan nirfana atau nirwana) tetapi agak janggal bila dibaca dengan ejaan nerbana.

Sepajang dan sepengathuan penulis, padanan huruf  X  dalam aksara Latin belum ada pada aksara Arab Melayu. Di dalam tulisan Arab, lambang bunyi/huruf X dipadankan dengan gabungan dua huruf, yaitu: Kaf dan Sin. Sebagai contoh kata maxi dalam aksara Arab ditulis dengan huruf: Mim, Kaf+Sin baris bawah; Kata extrim ditulis dengan Alif baris bawah, Kaf+Sin, Ta, Ra dan Mim.

Ketika Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia berhasil mengkonvensikan  huruf V dipadankan dengan huruf Waw titik satu di atas, karena penulis belum nemenukan dan mendapati di berbagai literature padanan huruf X dalam Arab Melayu, setelah melakukan pengkajian, penelitian dan pengembangan terhadap karakter abjad Arab, baik dalam bentuk tunggal, maupun gabungan yang membentuk kata-kata serta analisis pemadanan huruf-huruf khas Arab Melayu yang tidak terdapat dalam aksara Arab tetapi masih menggunakan dan mengeksploitasi aksara dan tanda aksara Arab yang sudah ada sekaligus untuk pengefektifan penggunaan lambang bunyi, maka penulis menawarkan dan menganjurkan penggunaan huruf Kaf titik tiga di bawah sebagai padanan lambang bunyi/huruf X. (bersambung)

SPN. Drs. Ahmad Darmawi, M.Ag (G.P. Ade Dharmawi)
Seniman dan Budayawan; Sultan Teater Riau
Pembina Sanggar Latah Tuah
PD. III Fakultas Pertanian dan Peternakan UIN Suska Riau