Oleh: SPN. GP. ADE DHARMAWI, M.Ag

Sebermula kata, berbicara dan membicarakan huruf/aksara Arab Melayu (Jawi) yang dipergunakan sebagai skrip untuk bahasa Melayu di kawasan Asia Tenggara, berarti mesti bermula dari pembicaraan tentang peranan bahasa Arab sebagai bahasa agama Islam bagi penganut agama Islam di dunia in

Bahasa Arab merupakan bahasa komunikasi bagi 150 juta orang yang berada di daerah Asia Barat dan Afrika Utara yang terdiri dari 22 negara dan kemudian ditandai sebagai anggota Liga Negara-negara Arab.

Di bawah payung agama Islam, bahasa Arab mempengaruhi dan turut menentukan perkembangan bahasa Persia, Turki, Urdu, Melayu, Hausa, dan Sawahili. Bahasa Arab menyumbang 40-60 % kosa kata untuk bahasa-bahasa ini. Atas dasar ini dapat dipertegas bahwa Bahasa Arab merupakan bahasa religius 1 Miliar muslim di seluruh dunia, yang diucapkan dalam ibadah sehari-hari. Bahasa ini pulalah menjadi julangan bahasa kebudayaan Islam yang diajar pada beribu-ribu sekolah di luar dunia Arab mulai dari Senegal sampai Filifina dan dari daerah Balkan sampai ke Madagaskar.

Triliteralitas; Sifat-sifat bahasa Arab (rumpun bahasa Semit umumnya) memiliki watak linguistic triliteralitas, yaitu kata-katanya terdiri dari akar tiga konsonan dan direvatif dari akar ini. Dari akar tiga konsonan ini, kata dibentuk melalui proses yang disebut konjugasi (tasrif) atau Foliasi, yang terdiri dari pengubahan vokalisasi tiga konsonan berdasarkan kaidah, atau penambahan satu atau lebih konsonan sebagai awalan, akhiran atau sisipan, dan mengubah vokalisasinya juga.

Proses konjugasi akar konsonan ini merupakan pusat dan inti bahasa dan cermin kesadaran pemakainya. Proses ini memberikan bahasa suatu struktur formal; masing-masing bentuk terkonjungasi mengandung sekaligus mengundang modalitas makna dari akar konsonan yang sama dengan semua akar-akar yang lain. Dalam hubungan ini bahasa Arab sangat dekat untuk memenuhi seluruh kisi pengucapan.

Bahasa Arab dalam bentuk klasiknya adalah Ursemitisch atau bahasa asli yang menjadi sumber dari berbagai bahasa Semit, dan dari bahasa asli inilah ragam bahasa Semit muncul sesuai dengan tingkat pengalaman.

Dari aspek fonetik; Bahasa-bahasa Semit memiliki abjad yang terdiri dari 6 gutural (=suara gerau/tekak): a, h, j, kh, ‘, gh; 2 palatal (=didekatkan ke langit-langit): k, j; 2 labial (=bibir): p, b; 5 uvular (diucapkan dengan getaran anak lidah): q, th, zh, sh, dh; 2 linguo-dental (=lidah-gigi): t, c/sy; 3 sibilant (=bunyi berdesis): ts, s, z; 6 liquid (=konsonan): r, y, l, w, m, n. dan 6 spiran : m, g, t, d, p, b.

Dari segi tata bahasa; Bahasa-bahasa Semit selalu berubah berinfleksi, dengan mengubah akhir kata benda – bergantung pada kasusnya, entah subjek ataupun objek langsung atau tidak langsung, dan mengubah akhir kata kerja bergantung pada keterangan waktunya. Dewasa ini hanya tiga bahasa yang berinfleksi, yaitu bahasa Arab, Amhari dan Jerman. Infleksi ini merupakan isyarat kecendrungan untuk mengupayakan ketelitian ketepatan dalam kesalahan; tak adanya infleksi merupakan isyarat kecendrungan kurang ketepatan dan pragmatis.

Sedangkan dari sudut Kosakata dan Ketepatan, bahasa-bahasa Semit memiliki banyak kosa kata, dengan banyak kata untuk satu objek. Dalam hal ini bahasa Arab mengungguli bahasa ropah serta bahasa lainnya. Dalam bahasa Arab, cahaya memiliki 21 nama, tahun 24, matahari 29, awan 50, gelap 52, hujan 64, sumber air 88, air 170, ular 100, unta 255, dan singa 350. Dengan demikian penulis prosa atau syair dapat leluasa memilih, dari spectrum yang kaya, kata yang sesuai dengan gubahannya, sehingga bentuk, suara, panjang, sajak dan afinitasnya selaras. Selain sangat kaya kata, bahasa Arab memperlihatkan ketepatan luar biasa dalam memakai artikulasi (gaya menulis atau bicara) yang pas. Ragam konotatif dari makna yang dirasakan bagi pengguna bahasa Arab sering terlalu halus bagi bahasa lain. Bahasa Arab telah mengembangkan watak ini sampai ke titik puncak.

Sementara dari tinjauan Sintaks, gaya, dan sastra, keberadaan sintaksnya terdiri dari kesederhanaan artikulasi dan kejelasan persepsi. Dalam bahasa Arab, kefasihan sering didefinisikan berdasarkan ketepatan, ketelitian, atau kejelasan. Keringkasan ungkapan merupakan kebijakan sastra, dan memadatkan pengertian yang luas menjadi beberapa kata yang dapat difahami dan dihafal dengan mudah. Hal demikian merupakan kekuatan khas dari produk bahasa Arab. Begitu juga Melayu yang banyak menyerap kosa kata, sintaks dan gaya bahasa Arab (akan dibahas lebih lanjut).

Sentuhan sastra dalam memadatkan kesalehan, moralitas, dan kearifan menjadi kata-kata yang sedikit tetapi bermakna kuat; Injil Ibrani dan al-Quran tak ada duanya. Dengan kapasitas sastra yang dimilikinya tak heran bila bahasa Arab-Semit menjadi bahasa kenabian sejak awal. Ciri sintaksis lainnya yang dimiliki adalah hampir tidak adanya kata gabungan.

Banyaknya sinonim dan tersedianya kata tersendiri bagi makna denotative atau konotatif apapun telah menghapuskan kebutuhan pengabungan. Sejak ditemukannya tulisan, orang-orang Semitlah yang pertama melahirkan prosa dan syair. Estetika sastra tercapai karena kombinasi dan ketepatan dan kejelasan dengan keindahan akan pengaruh emosional. Karena itu, kualitas estetis berkenaan dengan frase, sajak, syair atau kalimat dan tidak selalu menjadi fungsi gerakan dari tindakan atau plor yang luas. Inilah sebabnya kenapa warisan sastra Semit bebas dari drama. Ini tidak dapat dituliskan berdasarkan kesatuan dramatis, tapi lebih pada ketakselesaiannya atau syair tanpa akhir Kesatuan plot yang terjalin erat secara keseluruhan, produk sastra Arab-Semit bersifat analitis dan repitisi. Semua komposisi sama-sama memberikan kesan ketidakterbatasan. Emosi diungkapkan dalam setiap unsur konstitutif komposisi dengan mencapai klimaks dan reda pada akhirnya.

Ciri penting dari semua ini adalah ciri moralnya. Bagi sastra Arab-Semit; estetik dan moral adalah sikembar yang tak terpisahkan, satu kesatuan, di mana pengambaran dan penjabarannya adalah satu bilamana menyangkut nilai. Mereka berpandangan bahwa untuk memahami nilai, kita harus tergerak dan terpengaruh oleh daya tariknya.

Dalam hubungannya dengan dunia Melayu, khususnya Indonesia, di tengah warisan kebudayaan Indonesia masa lalu, yang dapat ditelusuri melalui naskah-naskah menunjukkan kuatnya pengaruh bahasa dan tulisan Arab. Kekayaan naskah itu mempunyai dimensi dan makna yang jauh lebih luas., karena merupakan hasil tradisi yang melibatkan berbagai ketrampilan dan sikap budaya orang Indonesia.

Berbagai sistem tulisan yang dipakai di Indonesia sepanjang sejarah, baik tulisan tipe India, Arab dan Latin, masih kabur sejarahnya. Sebagai contoh ; belum diketahui secara jelas sejarah perkembangan dan penyebaran tulisan Arab Melayu atau Jawi ; (Pegon = dalam istilah Jawa ; Jawo menurut istilah Atjeh).

*Penulis merupakan Pembina dan Pendiri Sanggar Seni Latah Tuah UIN, seniman Riau dan dosen UIN Riau.
* Tulisan ini pernah dimuat di Harian Rakyat Riau dan http://www.rakyatriau.com