Oleh: SPN Drs Ahmad Darmawi MAg

KESEPAKATAN yang tiada terbantah bahwa aksara Arab Melayu (Jawi) berasal dari huruf/skrip Arab dengan beberapa penyesuaian dan tambahan huruf : c, g, ng, ny dan p (huruf fa titik tiga di atas) kemudian Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia melalui Pedoman Ejaan Jawi Yang Disempurnakan terbitan tahun 1986, menambahkan huruf waw titik satu di atas untuk padanan huruf v. Kesemuanya huruf ini merupakan huruf khas Arab Melayu.

Untuk melengkapi dan menyempurnakan serta mengefektifkan penggunaan huruf dalam transliterasi dari huruf Rumi (Latin) kepada tulisan Arab Melayu, penulis menawarkan padanan huruf x dengan huruf kaf (ditambah dengan titik tiga di bawah), karena selama ini, huruf x ditulis dalam Arab Melayu dengan menggunakan dua huruf, yaitu gabungan huruf kaf dengan huruf sin. Pengefektifan dari gabungan dua huruf menjadi satu huruf saja untuk huruf x, setara dengan asal muasal huruf c yang dalam tulisan/skrip Arab ditulis dengan menggabungkan dua huruf, yaitu huruf ta dan syin. Begitu juga huruf ng yang berasal dari gabungan huruf nun dan jim.

Tentang perkembangan system tulisan Arab Melayu (Jawi) di Nusantara, cukup banyak peneliti Barat yang telah melakukan kajian dan penyelidikan disebabkan oleh kepentingan tugas yang berkaitan dengan keperluan pemerintahan (colonial penjajah), perniagaan dan Kristenisasi maupun karena murni untuk kepentingan ilmu pengetahuan.

Shellabear menulis artikel tentang perkembangan ejaan Arab Melayu (Jawi) pada tahun 1901, ia menyebut dan mengulas beberapa pengkaji Barat yang telah menyelidiki bahasa Melayu termasuk ejaan dan tulisannya, antara lain: van Ronkel, van Elbinck, Robinson, Gerth v. Wijk, Erdnly, van der Waal, Cohen Stuart, de Hollander, van der Tuuk, Pijnappel, Klinkert dan Wilkinson.

Shellabear telah menyuarakan rasa kagumnya terhadap hakikat adanya keseragaman dalam tulisan dan ejaan Arab Melayu yang terkandung dalam manuskrip-manuskrip sebelum kurun abad ke tujuh belas Masehi yang ditulis di seluruh pelosok Kepulauan Melayu.

Shellabear memberi alas an keseragaman tersebut disebabkan karena kemahiran tulis menulis pada masa itu hanya dikuasai oleh beberapa orang juru tulis yang tentu sekali telah terlatih dalam hal kaidah penulisan sehingga dapat terjaga keseragamannya. Kenyataan ini diperkuat oleh fakta bahwa teks-teks pada masa itu kebanyakanya terdiri dari dokumen-dokumen resmi agama dan kerajaan, yang tentu sekali hanya ditulis oleh kelompok terpelajar saja.

Lebih lanjut Shellabear menyatakan kekagumanya, bahwa orang Melayu menerima system tulisan dan bacaan Arab Melayu ini secara langsung dari orang Arab, dan orang Arablah yang mula-mula menggunakan sistem tulisan Arab untuk menulis bahasa Melayu yang seterusnya dikenal dengan nama Aksara/Tulisan Arab Melayu atau Jawi.

Pada tahun 1812 (sekitar 100 tahun sebelum kajian Shellabear), Marsden telah memperkatakan keberadaan aksara Arab Melayu dalam bukunya A Grammar of the Malayan Language. R.O. Winstedt (1913) juga mengulas tentang system ejaan Arab Melayu dalam bukunya Malay Grammar. Sedangkan di kalangan orang Melayu, Raja Ali Haji diakui sebagai tokoh yang mula-mula sekali memperkatakan system ejaan Arab Melayu seperti yang tercatat dalam bukunya Bustan al-Katibin, diteruskan oleh Muhammad Ibrahim (anak Abdullah Munsyi).

Sedangkan tokoh Melayu pertama yang benar-benar menganalisis system ejaan Arab Melayu dari segi prinsip dan segala permasalahannya adalah Zainal Abidin bin Ahmad (Za’ba) dengan karyanya Jawi Spelling dan buku Daftar Ejaan Melayu Jawi-Rumi. Tokoh lainnya adalah Raja Haji Muhammad Tahir bin Al-Marhum Mursyid Riau dalam bukunya Rencana Melayu.

Skrip Arab yang diadaptasi oleh bahasa Melayu untuk pengejaannya seperti yang berkembang selama ini, selain disebut dengan nama Arab Melayu, juga dikenal dengan istilah Jawi (Jawo menurut istilah Atjeh ; Pegon = dalam istilah Jawa).

Tidak diketahui siapa orang yang memperkenalkan istilah Jawi. Kata Jawi dalam bahasa Melayu (Malaysia) merupakan nama sejenis tetumbuhan, yaitu Pokok Jawi-jawi atau Jejawi dan pada penamaan jenis beras yaitu Beras Jawi (beras yang berbeda dengan beras pulut). Kata Jawi juga dikebal dalam bahasa Minang/Kampar untuk menyebut kerbau. Kesemua istilah ini tidak ada hubungan dan kaitannya dengan penamaan Aksara Jawi. Begitu juga jika dikatan bahwa Jawi merupakan perkataan Arab dari kelas kata ajektif terbitan dari kata (nama) Jawa, dengan maksud (tulisan) yang berkait dengan suku/orang/pulau Jawa.
Hal ini tidak logis, karena Aksara Jawi sudah wujud dan digunakan di wilayah Sumatra dan Semenanjung Malaya jauh sebelum orang/pulau Jawa memeluk agama Islam (883 H/1468 M).

Omar Awang, menegaskan kemungkinan perkataan Jawi berasal dari perkataan Arab al-Jawwah untuk menamakan pulau Sumatra (seperti nama lainnya menurut versi Arab adalah: Yaqut dalam Mu’jan al-Buldan; Abu al-Fida’ dalam Taqwim al-Buldan dan Rihlat Ibn Batutah) yang pernah digunakan dalam catatan (bertulisan Arab) sebelum pertengahan abad ke 14 M. Fakta ini menunjukkan satu kemungkinan yang kuat bahwa istilah Jawi berasal dari orang Arab untuk merujuk skrip ejaan yang digunakan oleh orang Sumatra (penduduk al-Jawwah) yang beragama Islam dan menggunakan bahasa Melayu.

W. Marsden dan G.H. Erndly mengutip pendapat Marco Polo yang mengatakan bahwa perkataan Jawa/Jawi merupakan nama lain pulau Sumatra pada zaman dulu (ketika penduduk pulau ini telah memeluk agama Islam). Marsden menyebutkan keterangan yang dibuat oleh Raffles, perkataan Jawi bagi orang Melayu bermakna kacukan (mixed or crossed), seperti dalam ungkapan: anak Jawi bermakna anak kacukan (bapak Keling dengan ibu Melayu). Dengan demikian timbul istilah Jawi peranakan (peranakan Melayu).

Merujuk pendapat Wilkinson, istilah Jawi maksudnya adalah Melayu, misalnya dalam ungkapan: “jawikannya” bermakna: “terjemahkan ke dalam bahasa Melayu”. Termasuk pula dalam bahasa tulis maka maknanya: “salin ke dalam bahasa Melayu”. Hal ini diperkuat oleh data seperti yang tercatat dalam kitab Seribu Masalah sebagaimana penggalan kutipan berikut ini: “…yang daripada bahasa Parsi… dipindahkan kepada bahasa Jawi (pen: tulisan Melayu – maksudnya tulisan Arab Melayu) … yang menyurat ini … Muhammad Mizan ibn Haji Khatib Taha… bangsanya al-Jawi (Melayu) Palembani
negerinya…”.

Malek Bennabi membagi zona bangsa/budaya ummat Islam di dunia ini terdiri dari lima zona (Arab, Mesir, Persia, Melayu dan Turki), maka dalam hubungannya dengan peristilahan Jawi; istilah Jawi dengan makna Melayu adalah sebagai lawan (kata) bagi istilah Arab/Parsi. Berarti: Bangsa Jawi bermakna lawan kata dari bangsa Arab/Mesir/Persia/Turki; begitu juga bahasa dan tulisan Jawi merupakan lawan dari bahasa dan tulisan Arab/Mesir/Persia/Turki.
Berdasarkan uraian tersebut dapat ditegaskan bahwa yang dimaksud tulisan Arab Melayu atau Jawi adalah bahasa Melayu yang ditulis dengan menggunakan skrip (huruf dan tulisan) Arab.

*Penulis merupakan Pembina dan Pendiri Sanggar Seni Latah Tuah UIN, seniman Riau dan dosen UIN Riau.
* Tulisan ini pernah dimuat di Harian Rakyat Riau dan http://www.rakyatriau.com