(SPN. Drs. Ahmad Darmawi, M.Ag)

Tulisan atau skrip Arab Melayu (Jawi) berasal dari skrip Arab yang sampai ke Nusantara bersama-sama dengan kedatangan agama Islam di rantau ini. Skrip Arab tergolong dalam keluarga Semitik yang berasal dari cabang Semitik Utara yang kemudian menurunkan keluarga kecil Aramik dan seterusnya kepada Nabaten selanjutnya hingga menjadi skrip Arab.

Tentang kedatangan agama Islam ke Nusantara, ada dua pendapat yang memperkatakan arah kedatangan dan tarikhnya, antara keduanya saling melengkapi antara satu dengan yang lain. Syed Naquib al-Attas dalam bukunya Preliminary Statement on A General Theory of The Islamization of The Malay Archipelago,   menyebutkan tentang catatan pengembara Cina yang menyatakan bahwa pada tahun 55 H/674M, suda ada pemukiman orang Islam di Sumatra Timur (San Fu Cji = Sriwijaya = Palembang).

Ada dugaan bahwa penempatan penduduk muslim di Nusantara secara besar-besaran bermula setelah perpindahan orang Islam yang bermustautin di negeri Cina sejak abad pertama Hijriyah/abad ketujuh Masehi, akibat kekacauan politik yang terjadi di Cina pada zaman Raja Hi Tsung. Orang Islam yang pindah dari Canton bermigrasi kea rah Selatan  dan membangun perkampungan di Kedah dan Palembang.

Pendapat tersebut diperkuat oleh S.Q. Fatimi dalam Islam Comes to Malaysia menyatakan bahwa Islam mula-mula datang ke kepulauan Melayu melalui arah Timur (pendapat ini menyanggah pendapat peneliti Barat seperti de Jong yang berkesimpulan bahwa Islam datang dari arah Barat, melalui India). Fatimi menegaskan bahwa penduduk muslim yang berasal dari Cina berpindah ke melalui Laut Cina Selatan  menuju Phang-rang, Patani, Terengganu, Pahang dan Leran.

Omar Awang dalam The Terengganu Inscription As The Earlist Known Evidence of The Finalisation of The Jawi Alphabet menyetujui pendapat kedahiran orang Islam di Nusantara pada awal abad ke delapan Masehi dengan merujuk pendapat G.R. Tibbets yang mengatakan dengan kehadiran pedagang pedagang Islam di pelabuhan-pelabuhan Cina tentulah mereka juga telah melewati (atau bahkan inggah berdagang) wilayah Asia Tenggara.

Analisis ini diperkuat dengan kebangkitan imperium Abbasiyah yang berpusat di Baghdad sekitar tahun 750 M telah menggalakkan perkembangan perdagangan dengn wilayah Timur.  Penemuan uang logam Dinasti Abbasiyah zaman Khalifah al-Mutawakkil bertarikh 848, ditemukan di Kedah.

Pendapat lain yang merujuk Hikayat Aceh mengatakan bahwa Islam telah masuk ke wilayah Aceh sekitar tahun 505 H/1112 M dengan kedatangan seorang Muballigh bernama Syekh Abdullah Arif, muridnya bernama Syekh Burhanuddin yang kemudian membawa Islam ke pantai Barat Sumatra. Sedangkan tarikh penubuhan Islam di Aceh telah bermula tahun 601 H/1204 M ketika Sultan Johan Syah menaiki tahta pemerintahan (Batu nisan Sultan Johan Syah ditemukan di Kampung Pande dekat Banda Aceh).

Dalam Hikayat Rajaraja Pasai, terdapat keterangan yang mengatakan bahwaSyarif dari Mekah telah mengutus satu rombongan pendakwah yang dipimpin oleh SyekhIsmail untuk menyebarkan agama Islam di Aceh pada abad ke 7 H/13 M di kawasan Perlak, Samudera dan Pasai. Wilayah ini telah diislamkan pada tahun 682 H/1282 M. Kemudian S.Q. Fatimi mengutip catatan Marco Polo yang melaporkan pelayarannya bahwa Ferlek (Perlak) telah menerima Islam ketiba ia sampai di situ pada tahun 1292 M.

Pada abad ke 7 H/13 M, Kerajaan Pasai dinyatakan sebagai kerajaan pertama di Nusantara yang menjadikan Islam sebagai agama resm kerajaannya, kemudian  pada awal ke 8 H/14 M, Pasai menjadi pusat pengajian Islam terawal di Nusantara dan mengembangkan Islam ke wilayah Selatan.

Penyebaran dan perkembangan agama Islam di Nusantara terus berkelanjutan hingga abad ke 16 dan 17 Masehi memasuki berbagai wilayah serta menjadi agama resmi berbagai kerajaan di tanah Semenanjung Malaya, Sulu dan Mindanau (Filifina) dan Brunai.

Dengan kedatangan agama Islam, bukan saja mengubah agama dan kepercayaan penduduk dan masyarakat di Nusantara, tetapi juga memasuki bidang social budaya. S.M.N. Al-Attas menyatakan; bahasa Melayu juga mengalami proses pengislaman. Disamping penyayaan kosa kata dan istilah-istilah yang berasal dari bahasa Arab dan Persia (Islam), bahasa Melayu juga menjadi bahasa komunikasi perdagangan, politik dan penyebaran serta pengajaran agama Islam di seluruh kepulauan Melayu, termasuk pula di Thailand Selatan dan Champa serta Kamboja.

Dengan demikian bahasa Melayu memposisikan diri sebagai suatu bahasa baru, beralih dari aliran lama yang lebih cendrung kepada sifat estetik, romantic dan khayalan untuk menggambarkan  Weltanschauung lama Melayu seperti yang terkandung dalam dongeng, hikayat, pantun, seloka, cerita margasatwa, legenda, roman, asal-susul dan silsilah raja-raja yang bercorak Aminis-Dinamisme dan Hindu menjadi aliran yang lebih saintifik, logis dan rasional.

Sedangkan kesan yang sangat menakjubkan serta momentum perubahan besar dalam hal perkembangan bahasa Melayu akibat proses pengislaman ini adalah penggunaan dan adaptasi skrip Arab menjadi aksara Arab Melayu (Jawi) untuk mengeja bahasa Melayu.***