Oleh: SPN. Drs. Ahmad Darmawi, M.Ag

Keberadaan bahasa Melayu yang berkembang di sekitar tepian pantai, selat, kuala, pulau, tanjung di daerah pesisir Asia Tenggara, pada awalnya hanyalah bahasa yang sangat sederhana dengan berbagai ragam dialek. Karena pergerakan interaksi dan komunikasi manusia ketika itu lebih terfokus pada daerah pesisir sebagai wilayah hunian bangsa Melayu dan selanjutnya menjadi jalur dan persinggahan perdagangan secara perlahan namun pasti menyebabkan bahasa Melayu terpakai sebagai bahasa pergaulan dan kemudian meningkat menjadi bahasa perdagangan. Kenyataan ini semakin menunjukan jati bahasa Melayu yang komunikatif ketika terbinanya jalur perdagangan antar bangsa (India, Cina, Arab dan Eropah).

Menyadari perkembangan bahasa Melayu yang begitu pesat, upaya pengembangan bahasa Melayu sebagaimana diakui oleh A. Teeuw telah lama diupayakan oleh orang Melayu sendiri. Untuk menyusun kosa kata Melayu secara systematis dalam bentuk kamus sejak masa peralihan ke zaman cetak sekitar abad 15 dengan adanya kamus Daftar Cina Melayu. Pigafetta (1522) telah merekamkan kamus bahasa Melayu dalam Daftar Melayu- Itali. Kemudian pada abad ke-16, Jan Huygen van Linschoten memastikan bahwa bahasa Melayu di Asia Tenggara sangat penting fungsinya dalam komunikasi antar bangsa daripada bahasa Francis di Eropah Barat. Setiap orang yang ingin ikut serta dalam kehidupan antar bangsa di kawasan ini mutlak mengetahui bahasa Melayu. Pada tahun 1596, Kamus Bahasa Melayu – Belanda disusun oleh Frederik de Houtman. Dua abad kemudian kamus bahasa Melayu terbesar disusun oleh Leydekker.

Kenyataan tersebut menjadi bukti yang sangat meyakinkan tentang keberadaan bahasa Melayu yang mempunyai pristise mengatasi semua bahasa yang ada Asia Tenggara. Perkembangan bahasa Melayu semakin memastikan dirinya sebagai lingua franca dan world view of Islam bagi Uqala (pemikir), ‘Umara (kalangan pemerintah/kerajaan) ‘Ulama (alim ulama) maupun kalangan Syu’ara (para penyair/sastrawan).

Keagungan bahasa Melayu, tergambar pada abad ke 16/17 M, di mana kita menyaksikan suatu kesuburan dalam penulisan sastra, falsafah, metafisika, dan teologi rasional (dengan menggunakan huruf Arab Melayu) yang disifatkan oleh Syed Naquib al-Attas sebagai tiada tolok bandingnya di mana mana dan pada zaman apapun di Asia Tenggara.

Berbicara dan membicarakan Huruf/Aksara Arab Melayu/Jawi (= al-Jawah penamaan orang Arab terhadap orang Islam yang berada di Malay Colone/Asia Tenggara : Pegon = dalam istilah Jawa ; Jawo menurut istilah Atjeh ) yang dipergunakan sebagai skrip untuk bahasa Melayu, berarti mesti bermula dari pembicaraan tentang peranan bahasa Arab sebagai bahasa agama Islam bagi penganutnya di dunia ini Bahasa Arab merupakan bahasa komunikasi bagi 150 juta orang yang berada di daerah Asia Barat dan Afrika Utara yang terdiri dari 22 negara dan kemudian ditandai sebagai anggota Liga Negara-negara Arab.

Di bawah payung agama Islam, bahasa Arab mempengaruhi dan turut menentukan perkembangan bahasa Persia, Turki, Urdu, Melayu, Hausa, dan Sawahili. Bahasa Arab menyumbang 40-60 % kosa kata untuk bahasa-bahasa ini. Atas dasar ini dapat dipertegas bahwa Bahasa Arab merupakan bahasa religius 1 Miliar muslim di seluruh dunia, mulai dari Senegal sampai Filifina dan dari daerah Balkan sampai ke Madagaskar.

Karya-karya dalam bahasa Melayu dan tulisan Arab Melayu tidak saja lahir di Riau atau Semenanjung Melayu saja, melainkan termasuk diberbagai pusat kerajaan yang berjauhan, seperti: Aceh, Bima, dan Ternate, Begitu pula di Kerajaan Buton bahasa Wolio ditulis dengan menggunakan huruf Arab, aksara Sunda-Jawa (Cacarakan) ditulis dengan huruf Pegon (Arab)
Sejarah dan perkembangan Huruf/Aksara Arab Melayu tidak mampu mengikuti keagungan bahasa Melayu. Walaupun demikian, penggunaan aksara Arab sebagai skrip bahasa Melayu merupakan penemuan yang patut dibanggakan.

Keberadaan aksara Arab Melayu yang diduga telah berkembang dan menyebar di wilayah Nusantara beberapa abad setelah abad 7 Masehi sejalan dengan masuknya ajaran agama Islam di rantau ini sebagaimana yang terdapat di prasasti dan batu nisan serta terekam dalam berbagai bahan bacaan hingga menjelang akhir abad ke-20 masih terasa denyut perkembangannya. Namun setelah tahun 1980-an, nasib aksara Arab Melayu secara nasional “dijajah” oleh adanya upaya pemberantasan buta huruf. Orang-orang kampong dinista karena tidak dapat tulis-baca huruf Latin dan dicap sebagai buta huruf, meskipun mereka mampu tulis-baca Arab Melayu. Akibatnya generasi yang lahir di atas tahun 1980-an banyak yang buta aksara Arab Melayu bahkan tidak mampu membaca al-Quran. Untuk mengatasi hal ini secara praktis dan pragmatis dengan adanya gejala yang boleh dituduh sebagai latah berupa transliterasi Surah Yasin dengan tulisan Rumi yang memancing berbagai penyimpangan dan kesalahan cara pembacaan beredar secara mudah dan murah.

Begitu pula, di surau-surau dan madrasah meskipun ada proses belajar mengajar mengaji (membaca al-quran) tetapi tidak diiringi dengan pembelajaran bahasa Arab dan aksara Arab Melayu sebagaimana masa-masa sebelumnya, sementara kitab-kitab klasik keislaman yang beredar di negeri ini, seperti di Kota Tembilahan hingga sekarang masih terdapat beberapa toko buku yang secara khusus menjual buku-buku bertuliskan Arab Melayu. Buku-buku tersebut seperti: Kitab Perukunan, Sabil al-Muhtadin, Risalah Amal Ma’rifah dan lain-lain masih menjadi rujukan orangtua-tua dan belum ada tandingannya hingga sekarang (walaupun banyak buku sejenis yang bertulisan Rumi).

Begitu pula di Yayasan Indrasakti Pulau Penyengat Akibat kekeliruan kebijakan pendidikan nasional dalam memaksakan politik budaya Indonesianisasi dengan mengaburkan peran bahasa Melayu sebagai bahasa asalnya serta pemaksaan pemaksaan skrip Rumi sebagai tulisan bagi bahasa Indonesia dengan merujuk kepada Ejaan Van Ophysen, Suwandi dan Ejaan Yang Disempurnakan secara langsung atau tidak langsung telah memutus rantai kegemilangan sejarah dan perkembangan aksara Arab Melayu di Negara ini, akhirnya pemangku dan pengguna bahasa Melayu tidak hanya di Riau, tetapi juga di seluruh Indonesia hampir kehilangan kekayaan khazanah budaya yang sangat berharga.

Tingginya perhatian Pemerintah Provinsi Riau dalam upaya membangkit batang terendam dan menggalakkan penggunaan huruf Arab Melayu baik di sekolah-sekolah, maupun sosialisasi dan publikasi sebagaimana yang terpampang di plang nama jalan dan kantor belum diiringi dengan pembakuan kaidah penulisan yang dapat diterima secara umum, begitu juga transliterasi dari kata yang berasal dari bahasa Arab banyak mengalami perubahan sehingga menimbulkan perubahan makna, belum lagi transliterasi dari bahasa asing lainnya yang terpakai dalam bahasa Indonesia yang berbeda antara huruf dan bunyi belum lagi tersentuh upaya untuk membuat kaidah yang baku.

Akhirnya di negeri ini, hari ini mungkin sampai nanti mata kita terpaksa menyaksikan pertelagahan cara dan tata cara penulisan Arab Melayu yang saling bertikai pada nama-nama jalan dan plang kantor yang terpampang (ada yang terkesan dipaksakan dan ada pula sampai pada tingkat memalukan karena yang tidak mengikuti kaidah penulisan). Sampai bila pemandangan yang menyesakkan hati ini jadi tontonan yang membingungkan bahkan menyesatkan anak-anak sekolah yang dipaksa belajar Arab Melayu oleh guru yang perlu dipertanyakan kompentensinya.

Sebagai pengurai lerai kekusutan ini perlu diupayakan beberapa hal yang bersifat mustahak dan mendesak, yakni: Pertama, penelitian dan pengkajian sejarah perkembangan aksara Arab Melayu, Kedua, pencarian dan penetapan kaidah transliterasi dan tata cara penulisan yang baku; Ketiga, penyusunan kosa kata bahasa Melayu dalam bentuk Kamus Arab Melayu; Keempat, pengakomudiran kota kata bahasa asing lainnya (selain bahasa Arab) dengan menetapkan bunyi sebagai rujukan tulisan; Kelima, upaya menemukan dan menyebar-luaskan media elektronik untuk penulisan Arab Melayu; Keenam, pengadaan buku-buku dan bahan bacaan lainnya melalui percetakan dan penerbitan yang menggunakan aksara Arab Melayu.