(SPN. GP. ADE DHARMAWI, M.Ag)

Kesemua unsur kebudayaan tersebut dikembangkan dan diwariskan secara turun temurun melalui bahasa. Sebagaimana halnya kebudayaan secara umum tumbuh dan berkembang dalam suatu masyarakat, maka demikian pula dengan keberadaan bahasa. Bahkan bahasa menjadi penentu dan pengenal suatu bangsa.

Pentingnya keberadaan bahasa bagi ummat manusia tergambar pada pembelajaran pertama yang diterima oleh Adam a.s. sebagai bapak manusia adalah bahasa. Karena pentingnya bahasa, setidak-tidaknya sejak zaman Yunani kuno, minat orang telah dibangkitkan oleh banyaknya fungsi yang dimainkan bahasa. Para Filosuf Yunani memandang bahasa sebagai alat untuk mencari dan mengungkapkan kebenaran, untuk mengungkapkan hal-hal yang bersifat artistic dan untuk persuasive. Dalam pandangan hidup orang Athena pada abad ke-5, bahasa menjadi instrumen untuk mencapai tujuan tertentu, yang konkret dan praktis. Bahasa dianggap sebagai senjata ampuh dalam peraturan politik tingkat tinggi.

1.Pemahaman manusia tentang bahasa tergambar pula pada apa yang dinyatakan oleh William Shakespeare yang menekankan fungsi bahasa sebagai wahana untuk menyampaikan kebijaksanaan, memperoleh penghargaan, dan untuk meyakinkan. Kemudian para ahli linguistik kontemporer melanjutkan pembeberan pentingnya keberadaan bahasa dengan memberikan daftar yang lebih rinci mengenai fungsi social, psikologis dan politis bahasa.

2. Pada perkembangan selanjutnya makin disadari bahwa sebagai kata yang sangat tua – sama tuanya dengan sejarah ummat manusia itu sendiri, bahasa hadir bersamaan dengan sejarah social komunitas-komunitas yang dalam pengertian modern disebut masyarakat atau bangsa. Pemahaman mengenai bahasa menjadi hal pokok bagi setiap upaya penyelaman lautan makna kenyataan hidup masyarakat atau bangsa manusia. Manusia bersebati dengan dan dalam bahasa, bahasa menstruktur pengalaman dan pengalaman membentuk bahasa.

Bahasa bukan semata-mata alat komunikasi atau sebuah system kode atau nilai yang secara sewenang-wenang menunjuk suatu realitas monolitik. Bahasa adalah suatu kegiatan social. Secara social ia terikat, dikonstruksi dan direkonstruksi dalam kondisi khusus dan setting social tertentu, senyampang tertata menurut hokum yang diatur secara ilmiah dan universal. Karenanya, sebagai representasi dari hubungan-hubungan sosial tertentu, bahasa senantiasa membentuk subyek-subyek, strategi-strategi, dan tema-tema wacana tertentu.

Sejarah bahasa Melayu mempunyai rentang dan ranji yang cukup panjang. Sepanjang sejarah tamadun manusia yang telah mengenal bahasa, pelbagai ilmu diterokai akibat kemasukan pengaruh luar. Kedatangan pengaruh Hindu dan Budha yang telah meletakkan mercu keagungan kerajaan Sriwijaya dan Majapahit telah mempersaksikan lahirnya pelbagai bentuk ilmu warisan pengaruh luar. Pelbagai bukti telah ditemui dari prasasti bahasa Melayu Kuno, dan sumber-sumber peninggalan di India dan Cina.

Keberadaan bahasa Melayu yang berkembang di sekitar tepian pantai, selat, kuala, pulau, tanjung di daerah pesisir Asia Tenggara, pada awalnya hanyalah bahasa yang sangat sederhana dengan berbagai ragam dialek. Karena pergerakan interaksi dan komunikasi manusia ketika itu lebih terfokus pada daerah pesisir sebagai wilayah hunian bangsa Melayu dan selanjutnya menjadi jalur dan persinggahan perdagangan secara perlahan namun pasti menyebabkan bahasa Melayu terpakai sebagai bahasa pergaulan dan kemudian meningkat menjadi bahasa perdagangan. Kenyataan ini semakin menunjukan jati bahasa Melayu yang komunikatif ketika terbinanya jalur perdagangan antar bangsa (India, Cina, Arab dan Eropah).

Kesusastraan Melayu muncul dan berkembang mulai dari abad ke-14 di berbagai Bandar di kedua sisi Selat Melaka. Pada waktu itu, bahasa Melayu sudah berabad-abad tersebar di Kepulauan India dan dunia Melayu pada umumnya sebagai bahasa perantara (lingua franca) dan sudah pula menjadi media dakwah agama Islam. Oleh karena itu sastra Melayu, yang tertulis dengan huruf Arab menyebar juga di seluruh Nusantara.

Karya-karya dalam bahasa Melayu tidak saja ditulis di Riau atau Semenanjung Melayu saja, melainkan termasuk diberbagai pusat kerajaan yang berjauhan, seperti: Aceh, Bima, dan Ternate.

Naskah-naskah tertua yang ditemukan, diperkirakan telah ada sekitar abad 16 dan 17, naskah tersebut sangat langka; kebanyakan naskah yang kini ditemukan dan diketahui diperkirakan abad ke 18 dan terutama abad ke 19. Naskah-naskah tersebut tersimpan di berbagai perpustakaan di seluruh dunia.

Disebabkan perannya sebagai bahasa dagang, dakwah, pengajaran dan kesusastraan, politik dan pemerintahan, sampai menjadi bahasa nasional di Indonesia dan Malaysia, maka bahasa Melayu mendapat perhatian khusus mulai dari abad ke-18.

Bahasa Minang (Minangkabau) secara etnik berbeda dengan bahasa Melayu, namun bila ditinjau susur galur perkembangan kebahasaan, ianya merupakan salah satu bentuk dan dialek bahasa Melayu. Wieringa, sering memerikan naskah minang sama dengan naskah Melayu, oleh karena tulisan bahasa Minang tidak memperlihatkan semua perbedaan lafal antara bahasa Minang dengan bahasa Melayu. Dalam hal ini, tulisan Jawi berfungsi sebagai tulisan standar; ejaannya sesuai dengan lafal Melayu dan dipakai juga untuk sejumlah kata-kata minang.
Naskah-naskah Sunda sudah dikenal sejak abad ke-15, mula-mula ditulis di atas daun lontar kemudian di atas kertas. Aksara yang dipakai adalah Aksara Sunda Kuna, disusul Aksara Sunda-Jawa (disebut: Cacarakan) serta huruf Arab. Sebagai contoh: Sejarah anten dalam bahasa Jawa dengan huruf Pegon yang berbentuk Macapat.

Kerajaan Ternate pada masa dahulu telah mempunyai tradisi tulis dalam bahasa setempat yang rupanya sangat mirip dengan tradisi tulisan dalam bahasa Bugis dan Makasar di Sulawesi Selatan dan dalam bahasa Melayu di Bima (Sumbawa). Begitu juga bahasa Wolio, tertulis dengan huruf Arab dipakai sebagai bahasa politik dan kebudayaan di Kerajaan Buton (Sulawesi Tenggara). Teks-teks yang dikarang dalam bahasa setempat berisi sejarah, agama, hukum, sastra dan lain-lain yang ditulis dengan menggunakan aksara Arab (Arab-Melayu).
Bahasa-bahasa Sumatra Selatan, beberapa tulisan daerah, a.l: Bahasa Kerinci, Rejang dan Lampung, serta sekelompok dialek yang diistilahkan dengan bahasa Melayu Tengah (menurut istilah Brandes 1887), dipakai di Sumatra Selatan yang mempunyai hubungan dengan bahasa Melayu Riau.

Tulisan sebelum aksara Arab di Sumatra: Melihat kekerabatan antara tulisan di Sumatra Selatan (kerinci, rencong, tulisan Ulu dan Lampung) di satu sisi dengan tulisan Batak di satu pihak, dan kehadiran tulisan Melayu Kuna yang digunakan di Sri Wijaya pada abad ke-7 dan di Pasai pada abad ke-14, maka diperkirakan bahwa sebuah tulisan Sumatra Purba (Proto Sumatra) pernah dipergunakan di seluruh Pulau Sumatra sebelum kedatangan Islam
Tulisan Sumatra Purba tersebut berasal dari satu model India (seperti tulisan-tulisan pra Islam yang lain di Indonesia) dan kemudian terpengaruh dengan tulisan Jawa. Waktu berkembang menjadi dua jenis yang berbeda, yaitu: Tulisan Batak di Utara dan Tulisan Rencong di Selatan.

Oleh karena bahasa-bahasa tersebut, seperti juga aksara-aksaranya, saling berkaitan, meskipun sebenarnya bahasa Rejang dan Lampung merupakan dua bahasa yang berlainan, bukan dua dialek dari satu bahasa. Selain bahasa-bahasa tersebut, terjumpai juga dalam beberapa naskah sebuah ragam bahasa sastra atau bahasa tinggi yang sebenarnya tidak lain dari bahasa Melayu dengan pengaruh bahasa Jawa serta kata-kata pinjaman dari dialek-dialek setempat.