Dengan melakukan susur galur asal kata dan makna pantun, saya berpendapat, bahwa: kata pantun selain memiliki kesamaan bunyi (pada suku kata terakhir) dengan kata santun, bantun, lantun dan runtun juga mempunyai hubungan dengan pembentukan kata dan makna pantun.

1. Santun
Kata santun, lengkapnya sopan-santun, mengandung makna: tutur kata, budi bahasa, budi pekerti, prilaku/kelakuan, perangai, tindakan yang baik. Apabila kedua kata ini digabungkan suku kata terakhirnya, terbantuklah kata pantun. Dengan demikian kata pantun mengandung makna: susunan tutur kata yang menggambarkan kebaikan budi bahasa, budi pekerti, prilaku/kelakuan dan perangai penuturnya. Pantun lama mengungkapkan:
Imam Perlis, menggalas katun,
lapan bersusun, pingat perunggu;
Dalam majlis, berbalas pantun,
sopan santun, diingat selalu.
Garuda terbang, naik ke jati,
hala beruntun, di hari selasa;
Tanda orang, yang baik hati,
bila berpantun, berbudi bahasa.
Kepala pundak bahu, orang yang semedi,
lantunnya kumandang, senandung sakti;
Pabila hendak tahu, orang yang berbudi,
pantunnya mengundang, mengandung pekerti.
Tuntun telangkai, memasuki mahligai,
dipertahtakan Tuanku, naik berduduk;
Pantun dipakai, memperbaiki perangai;
memperkatakan prilaku, baik dan buruk.
Bantun berjajar, delapan runtun,
menata huma, berpadi suasa;
Pantun mengajar, bersopan santun;
Bertata krama, berbudi bahasa.
Yang kurik, ialah kundi,
yang merah, ialah saga;
Yang baik, ialah budi,
yang indah ialah bahasa.
Dari isi/maksud pantun tersebut, terdapat dua hal berkenaan dengan sopan santun yang menjadi inti pesan. Tegasnya, pantun yang santun berisi tentang:
a. Budi
WJS. Poerwdarminta, mendefinisikan budi sebagai kelakuan (yang baik), kesopanan, keadaban atau adat istiadat dan tingkah laku. Apabila perkataan budi ditambah dengan awalan ber yaitu berbudi atau man di akhirnya yaitu budiman, ia berarti orang yang mempunyai budi bahasa, adab sopan, bersungguh-sungguh dalam pekerjaan, mempunyai daya ikhtiar yang tinggi, matang, bijaksana dalam membuat sesuatu keputusan dan yang paling penting banyak menabur jasa dan hakiki.
Masyarakat Melayu begitu menghargai dan menjunjung tinggi budi, sehingga budi itu diibaratkan sebagi sendi bangsa. Jika budi itu runtuh maka runtuhlah bangsa itu. Budi diiibaratkan tiang seri bagi sebuah rumah. Jika tidak ada tiang seri maka mustahil rumah dapat ditegakkan. Demikian juga halnya dengan budi, jika tiada budi maka mustahil tamadun dan budaya suatu bangsa itu dapat diwujudkan. Buya Hamka dalam buku Lembaga Budi mengutip pantun Melayu untuk menjelaskannya:
Tegak rumah, kerana sendi,
runtuh sendi, rumah binasa;
Sendi bangsa, ialah budi,
runtuh budi, runtuhlah bangsa.
Masyarakat Melayu juga beranggapan bahwa budi itu sama seperti hati budi diri seseorang. Budi itu merupakan hati bagi sesuatu tamadun atau bangsa. Jika seseorang itu tidak mungkin dapat hidup tanpa hati, maka demikian jugalah halnya dengan budi. Tanpa budi tidak mungkin sesuatu tamadun atau budaya bangsa dapat ditegakkan. Hal ini dijelaskan dalam pantun yang berikut:
Limau manis, dimakan manis,
manis sekali, rasa isinya;
Dilihat manis, dipandang manis,
manis sekali, hati budinya.
Budi bagi bangsa Melayu merupakan sesuatu yan tidak ternilai harganya, tidak dapat dibeli dengan uang: Burung serindit, terbang melayang,
mari hinggap, di ranting mati;
Bukan ringgit, pandangan orang,
pandangan atas, budi pekerti.
Sanjungan msyarakat Melayu terhadap seseorang itu, ditentukan oleh budinya, bukan oleh karena gelar, pangkat, harta jabatannya. Pantun berikut membuktikannya:
Tenang-tenang, air di laut,
sampan kolek, mudik ke tanjung;
Hati terkenang, mulut menyebut,
budi baik, rasa nak junjung.
Masyarakat Melayu juga senantiasa mengenang dan mengingat mereka yang berbudi. Mereka yang banyak menabur budi dan bakti itulah yang selalu disebut nama baiknya:
Pulau pandan, jauh ke tengah,
gunung Daik, bercabang tiga;
Hancur badan, dikandung tanah,
budi yang baik, dikenang juga.
Budi dan kedermawanan seseorang yang disanjung dan dihargai oleh masyarakat. Menyadari hakikat inilah seseorang yang budiman itu akan berusaha menabur jasa dan budi hingga ke akhir hayatnya: Bunga melur, bunga melati,
sunting anak, panglima perang;
Budi sedikit, kubawa mati,
harta yang tinggal, habuan orang.
Pisang emas, dibawa berlayar,
masak sebiji, di atas peti;
Hutang emas, boleh dibayar,
hutang budi, dibawa mati.
Sebaliknya, orang yang tidak berbudi dipandang remah oleh masyarakat. Hidupnya seperti enau di dalam belukar, janggal dan canggung. Pantun Melayu mengingatkan:
Di ribut, runduklah padi,
di rupak, Datuk Temenggung;
Kalau hidup, tidak berbudi,
duduk tegak, kemari canggung
Bunga melati, bunga di darat,
bunga seroja, di tepi kali;
Hina besi, karena karat,
hina manusia, karena tak berbudi.
b. Bahasa
Dasar bahasa untuk pembuatan pantun Melayu berazas dan bersendikan kepada adat resam dan budi bahasa yang mulia. Melalui bahasa yang santun orang Melayu mengungkapan perasaan dan fikirannya sebagai perwujudan kehalusan dan kelembutan jiwa serta rasa sebagai kekhasan jati diri yang searah dengan pentakrifan Melayu.
Masyarakat Melayu juga menyanjung tinggi mereka yang berbahasa. Bahasa dianggap pakaian suatu bangsa, malahan ianya dipandang sebagai jiwa kepada suatu bangsa. Ini berarti bangsa yang tidak beradab sopan dalam berbahasa dianggap sebagai bangsa yang tidak berjiwa. Karenanya berbahasa sangat dianjurkan:
Anak Cina, menimbang madat,
dari Makasar, langsung ke Deli;
Hidup di dunia, biar beradat,
bahasa tidak, berjual beli.
c. Budi bahasa
Gabungan atau paduan perkataan berbudi dan berbahasa disebut sebagai berbudi bahasa. Orang yang memiliki sifat ini dikenali sebagai budiman. Jika berbudi dihargai dan berbahasa juga disanjung tinggi, apatah lagi berbudi bahasa, dua puncak kemuliaan berpadu satu yang dijunjung tinggi karena ketinggian pribadi. Ia juga merupakan ukuran mercu ketinggian sesuatu tamadun atau bangsa. Pantun berikut mengakuinya:
Tingkap papan, kayu bersegi,
sampan sakat, di pulau angsa;
Indah tampan, karena budi,
tinggi bangsa, karena bahasa.
Berbudi bahasa merupakan puncak kebaikan dan puncak keindahan dalam kehidupan ini, tiada yang lebih berarti dan berharga selain berbudi bahasa menurut kacamata masyarakat
Melayu. Hal ini tergambar nyata pada bait-bait Pantun:
Makan sirih, berpinang tidak,
pinang ada, dari Melaka;
Makan sirih, mengenyang tidak,
sebab budi, dengan bahasa.
Balik-balik, api diberi,
kalau pandan, api tak naik;
Jaga-jaga, memeliharakan diri,
lazimkan budi, bahasa yang baik.
Pucuk pauh, sedang berjela,
selurus, bunga gelundi;
Agar jauh, silang sengketa,
perhalus, bahasa dan budi.
Budi bahasa telah menjadi amalan dan budaya masyarakat Melayu tradisional. Ini memunkingkan lahir dan suburnya perkembangan sastra rakyat. Sastra rakyat tidak mungkin lahir jika masyarakat Melayu tidak mementingkan budi bahasa. Walaupun pada masa dahulu masyarakat hidup sederhana, bertani dan tinggal di desa, tetapi mereka mempunyai daya kreatif dan amat mementingkan budi bahasa dan ini memungkinkan mereka menghasilkan sastra lisan yang indah, yakni pantun.
Kekayaan budi bahasalah yang memungkinkan mereka menghasilkan sastra lisan yang berlatar-belakang alam. Kekayaan budi bahasa jugalah yang menyebabkan mereka berhasil mewariskan sastra lisan dari satu generasi ke generasi berikutnya tersebab karena kayanya perbendaharaan sastra rakyat yang mereka wariskan.
2. Bantun
Kata bantun (memukul dengan tujuan mendapat hasil), seperti: membantun (memukul) batang rumbia/ruyung agar mudah mendapatkan sagunya.
Kalau tidak, dibantun rumbia,
manakan dapat, sagunya;
Kalau tidak, berpantun ria,
manakan dapat, lagunya.
Membantun (memukul) dengan kata-kata jauh lebih berarti dan beradab jika dibanding memukul dengan tangan, apalagi bila memukul tersebut dimaksudkan untuk mencapai tujuan dan maksud yang baik. Dengan pantun kita dapat membantun/memukul (memberi nasehat dengan cermat, memberi pelajaran dengan bijak, menyindir dengan qiyas, mencontohkan dengan tamsil dan ibarat. Mengenai tatacara menyindir-menyindir beta pantunkan:
Sebatang, dahan kayu,
akasia, bahan kertas;
Binatang, tahan palu,
manusia, tahan qiyas
Kalam pensil, mengukir emas,
kalam dawat, mengukir cerana;
Dalam tamsil, sindir dilepas,
dalam ibarat, sindir mengena.
Pulau Pinggir, tinggallah jejak,
ikan pias, diambil sekerat;
Kalau menyindir, hendaklah bijak,
gunakan kias, tamsil ibarat.
Di dalam witir, banyakan zikir,
bulan puasa, ‘amar sempurna;
Dalam menyindir, gunakan fikir,
dengan bahasa, samar bermakna.
Surau berukir, ruangan bertabir,
kesukaan orang, ahli syurga;
Kalau menyindir, jangan mencibir,
perasaan orang, mesti dijaga.
3. Lantun
Kata lantun mempunyai arti mengucapkan/menyanyikan dengan irama. Rangkai kata yang lazim dilantunkan adalah kalimat bersajak dan berima. Pantun sangat memungkinkan untuk dilantunkan, paling tidak diucapkan dengan nada bicara yang khas.
Dari segi persajakan dan rima (persamaan bunyi) selain untuk keperluan pelantunan juga sebagai kaidah baku yang membedakan pantun dengan pribahasa, kata berirama, pepatah, petatah-petitih, gurindam, syair, nazam, rubayat, matsnawi dan nazam.
Tasji’ atau persajakan pada jedda dan rima akhir pantun menurut kaidah yang lazim ditemui dan menjadi konvensi, dapat dicermati pada pantun yang beta contohkan:
Pangiran sembahyang, berukun tahajud,
bersama-sama wakil, delapan asnap;
Sampiran pembayang, penuntun maksud,
berirama rima ganjil, sepadan genap.
Bentuk-bentuk pantun yang lain:
a. Pantun Kilat/ Dua Kerat/ Dua Seuntai atau Karmina (dua baris). Rima akhir: a/a
Sudah gaharu, cendana pula;
Sudah tahu, bertanya pula.
Kura-kura, dalam perahu;
Berpura-pura, tidak tahu.
b. Pantun Tiga Perempat (Tiga kata dalam sebaris). Rima akhir: a-b/a-b.
Pinggan, tak retak,
nasi, tak dingin;
Engkau, tak hendak,
kami, tak ingin.
c. Pantun Empat Perempat/Empat Kerat (Pantun Biasa).
Rima akhir: a-a/a-a. Parang tajam, tidak berhulu,
buat menetak, si pokok Rhu;
Bila belajar, tekun selalu,
jangan ingkar, nasihat guru.
Rima a-a/a-a, memang ada dijumpai dalam pantun, tapi kurang lazim. Apabila antara sampiran/pembayang tidak jelas/tegas pembedanya dengan isi, maka ia akan menjadi syair, contoh: Ada seekor, ayam katek,
ekornya panjang, bulunya borek;
Bila berkokok, ia menyerek,
disepak kawan, jatuh tergolek.
Rima akhir: a-b/a-b (Lebih lazim).
Gelang intan, dalam puan,
gelang emas, di kain berlipat;
Bila terpandang, wajah tuan,
hati berdebar, lemah semangat.
Akan lebih baik, jika sama pada jedda dan rima akhir:
Pulau Pandan, jauh ke tengah,
gunung Daik, bercabang tiga;
Hancur badan, dikandung tanah,
budi yang baik, dikenang juga.
Akan semakin baik, jika akhir setiap kata berirama sama, contoh dari beta:
Nyonya merendang, tidak berseduh,
Ditambah garam, di dalam pati;
Hanya memandang, tidak menyentuh,
Bertambah geram, di dalam hati.
d. Pantun Enam Baris.
Rima akhir: a-a-b/a-a-b.
Bila anda, memuat lukah,
minta pumpunan, ikan sebelah,
silaf semata, tiada mengapa;
Bila ada, berbuat salah,
minta ampunan, akan Allah,
maaf dipinta, kepada sesama.
Rima akhir: a-b-b/a-b-b.
Padi bukit, padi huma,
Taruh mari, di dalam peti,
Dibawa orang, ke Tanjung Jati;
Budimu tuan, saya terima,
Sudah terleka,t di dalam hati,
Terpahat kukuh, hingga ke mati.
Rima akhir: a-b-c/a-b-c.
Sutan Muda, dari Lampung,
Memikul cangkul, dengan bajak,
Singgah minum, di lepau nasi;
Sudah serkah, tempat bergantung,
Telah patah, tempat berpijak,
Budi yang baik, tetap di hati.
4. Runtun
Kata runtun (tidak terputus, sambung bersambung, berturut-turut secara teratur) mengandung makna menggambarkan hubungan antara sampiran/pembayang dengan maksud/isi pantun tersusun menurut urutan pilihan kata yang selektif disertai keteraturan irama serta rima antara sampiran dan isi pada setiap bait.
a. Sampiran
Menurut Sutan Takdir Alisjahbana fungsi sampiran terutama menyiapkan rima dan irama untuk mempermudah pendengar memahami isi pantun. Ini dapat dipahami karena pantun merupakan sastra lisan, sehingga pada umumnya sampiran tak berhubungan dengan isi terkadang bentuk sampiran membayangkan isi
Saya berpendapat: Sampiran pantun adalah bahasa tersirat dibuat bukan sekedar untuk kebutuhan persamaan rima sehingga terkadang tanpa memperhatikan pertalian atau hubungan antara sampiran dengan isi. Sampiran yang baik, merupakan pembayang yang dibuat dengan mempertimbangkan persajakan dan rima, jumlah kata dan suku kata serta hubungan yang munasabah dengan isi juga merupakan hasil dari pilahan dan pilihan kata yang selektif sehingga membentuk suatu ungkapan yang padu dan sepadan.
Oleh karena sampiran merupakan cerminan artikulasi fikiran pemantun, maka keberadaan sampiran pada pantun jadi penentu luas dan dalamnya makna yang dikandung, karena bahasa sampiran adalah bahasa cerdik pandai yang dibuat pandai pantun karena mampu menangkap simbol alam makro untuk menuntun penyempurnaan kemanusiaan manusia sebagai alam mikro melalui maksud tersirat dari kata yang tersurat. Kesimpulannya beta rumuskan dengan pantun:
Tinjau hantaran, bertepak-tepak,
berapit pangkal, budaya santun;
Kalau sampiran, tak beragak-agak,
sempit dangkal, makna pantun.
Berangan rimbun, beranak serumpun,
bergoyang dilontar, maujud di para;
Dengan pantun, hendak menuntun
pembayang mengantar, maksud bicara.
b. Isi
Isi merupakan maksud dan tujuan yang ingin disampaikan pemantun. Isi pantun merupakan bahagian kedua dari sebait pantun; irama dan bunyi isi pantun mengikut kepada bahagian pertama. Jika bahagian pertama menjadi bahagian pembayang tentang kata-kata yang akan mengiringinya, maka bahagian kedua merupakan rangkaian kata sebagai isi fikiran dan perasaan. Dengan demikian, isi pantun tidak dapat berdiri sendiri meskipun kedudukannya sebagai inti kalimat.
Bagi orang awam, dibukakan kulit baru tampak isi. Maksudnya mereka baru dapat mengetahui maksud pantun ketika setelah membaca/mendengar isi setelah terlebih dahulu dapat arahan dari sampirannya. Gejala demikian tampak pada cara orang awam membuat pantun yang terlebih dahulu menetapkan isi pantun, baru mencari rangkaian kata yang dapat dijadikan pembayang tanpa harus mempertimbangkan hubungan antara baris pertama dengan baris kedua bahkan antara bahagian sampiran dengan isi. Mereka hanya mementingkan kesepadanan rima pada akhir kalimat.
Bagi pandai pantun, isi pantun yang mereka sampaikan bersifat samar dan metaforis sehingga masih memerlukan kecerdasan penafsiran. Jenis pantun yang demikian, umumnya dapat dijumpai pada pantun adat, pantun sindiran dan pantun perumpamaan serta pantun peribahasa yang benar-benar bernas.
c. Hungan Sampiran dengan Isi
Pantun memiliki dua bahagian utama, yaitu pembayang dan maksud. Dua bahagian ini ibarat dua struktur luaran dan dalaman ; lahir dan batin yang bergabung menjadi satu. Sumber-sumber yang ada dalam pembayang adalah dari alam ; ia bukan direka begitu saja. Begitu juga dengan maksud yang merupakan jiwa atau roh pantun itu. Korpus datanya bersumber dari pengalaman inderawi manusia, sehingga pada tataran demikian, pantun mengandungi persoalan yang rasional dan logis dari kesan interaksi manusia dengan alam sekitarnya.
Aspek luaran pantun meliputi unsur estetika, begitu pula aspek dalaman yang merupakan tema dan persoalan. Unsur estetika pantun dapat dilihat pada dua aspek. Pertama, yang berkaitan dengan penggunaan lambang-lambang tertentu yang terdapat dalam pantun mengikut tanggapan dan pandangan dunia masyarakat Melayu. Kedua, berdasarkan hubungan makna antara pasangan pembayang dengan pasangan maksud baik secara konkrit atau abstrak. Berdasarkan aspek isi, maka tema atau persoalan pantun hampir menyentuh seluruh aspek kehidupan masyarakat Melayu.

Ada dua pendapat mengenai hubungan antara sampiran dan isi pantun. Pendapat pertama dikemukakan oleh H.C. Klinkert pada tahun 1868 yang menyebutkan bahwa, antara sampiran dan isi terdapat hubungan makna. Pendapat ini dipertegas kembali oleh Pijnappel pada tahun 1883 yang mengatakan bahwa, hubungan antara keduanya bukan hanya dalam tataran makna, tapi juga bunyi. Bisa dikatakan jika sampiran sebenarnya membayangkan isi pantun. Pendapat ini dibantah oleh van Ophuysen yag mengatakan bahwa, sia-sia mencari hubungan antara sampiran dan isi pantun. Menurutnya, yang muncul pertama kali dibenak seseorang adalah isi, baru kemudian dicari sampirannya agar bersajak. Dalam perkembangannya, Hooykas kemudian memadukan dua pendapat ini dengan mengatakan bahwa, pada pantun yang baik, terdapat hubungan makna tersembunyi dalam sampiran, sedangkan pada pantun yang kurang baik, hubungan tersebut semata-mata hanya untuk keperluan persamaan bunyi. Pendapat Hooykas ini sejalan dengan pendapat Dr. (HC) Tenas Effendy (Raja Pantun Melayu asal Riau), beliau menyatakan: pantun yang baik dengan sebutan pantun sempurna/penuh, dan pantun yang kurang baik dengan sebutan pantun tak penuh/tak sempurna. Karena sampiran dan isi sama-sama mengandung makna yang dalam (berisi), maka kemudian dikatakan, “sampiran dapat menjadi isi, dan isi dapat menjadi sampiran.” Mengenai hubungan antara sampiran dengan isi, beta terjemahkan pada pantun:

Sekali terlihat, tangan menyurat,
dedaikan kunyit, berwarna kuning;
Setali tersirat, dengan tersurat,
bagaikan kulit, dengannya daging.

William Marsden dalam kitabnya yang bertajuk Grammer of The Malayan Language tahun 1812, berpendapat; dua baris pertama yakni sampiran merupakan kiasan terhadap dua baris berikutnya yakni isi pantun. Pendapat ini didukung pula oleh John Craufurd dalam kitabnya Grammer and Dictionary of The Malayan Language terbitan pertama, tahun 1852. William Marsden berkesimpulan, atas sampiran sebagai kiasan terhadap isi, dipakai dengan teliti oleh orang Melayu. Sedangkan John Craufurd melihat hubungan sampiran dengan isi, bagaikan teka-teki, yakni teka-teki pengertian, karena kiasan yang dikandungnya.

Abbe P. Favre dalam kitabnya bertajuk Grammair de la language Malaise tahun 1876 menyatakan; dua baris pantun yang mula-mula sampiran) berfungsi sebagai lambang terhadap dua baris berikutnya (maksud/isi), bukan untuk menentukan maksud atau isi pantun. Pendapat ini disokong oleh W.R. van Hoevell dan L.K. Harmsen, mengatakan bahwa; dua baris pertama pada pantun sering menyatakan suatu yang bukan-bukan, sebab yang dipentingkan di situ hanyalah keindahan bunyi, sebab pantun itu dilagukan oleh orang Melayu.

Dari berbagai hasil pengamatan, penelitian dan kajian serta telaah para sarjana. Dari pandangan mereka dapat disimpulkan bahwa ada berbagai hubungan antara sampiran dengan isi pantun. Sampiran itu bisa sebagai kiasan terhadap maksud pantun, bisa juga sebagai sugesti bunyi dan unsur estetik pada irama, bahkan menjadi teka-teki pengertian terhadap isi pantun. Karena itulah Hoesin Djajadiningrat melihat ada keghaiban dalam hubungan sampiran dengan isi, sebagaimana diterangkannya dalam kajian Arti Pantun Melayu yang Ghaib. Kegaiban itu terkesan dari sesudah dua baris pertama tiba-tiba disusul oleh dua baris terakhir, sedangkan sekaliannya ini berpunca pada bagian isi dalam dua baris terakhir.
d. Irama dan Bunyi
1). Irama
Sesuatu dikatakan orang berirama, apabila geraknya teratur. Manusia mengatur gerak sesuatu, membuat sesuatu berirama, untuk mendapat tenaga yang lebih besar dari biasa (ahli seni dalam segala lapangan seni).
Dalam dua baris pantun yang mula-mula disediakan untuk dibayangkan irama yang akan mengikat fikiran atau perasaan yang hendak diucapkan dalam dua baris yang berikutnya. Hal ini terang benar apabila pantun itu dinyanyikan; Lagu kedua baris yang mula-mula sama dengan lagu kedua baris yang penghabisan. Jadi orang yang mendengar kedua baris yang mula-mula itu dibuka hatinya untuk menerima apa yang hendak diucapkan, dengan jalan menginsafkan lebih dahulu kepadanya irama yang akan mengirimkan ucapan itu kelak. Hal ini lebih penting lagi artinya, apabila kita diingatkan bahwa dalam tingkat kecerdasan manusia yang bersahaja; irama lebih penting dari arti kata. Dalam nyanyian kanak-kanak banyak terdapat bunyi atau kata-kata yang mungkin tidak punya arti secara pemaknaan bahasa. Kanak-kanak tidur terlayang oleh nyanyian bundanya, bukan karena ia mengerti kata-kata nyanyian itu, tetapi disebabkan oleh irama bunyi itu.
Untuk mendapatkan irama yang terdengar akrab dan berkesan, mestilah dilakukan pilihan kata dengan mempertimbangkan akustik bunyi, jumlah kata dan suku kata, kata terbuka atau tertutup sehingga menimbulkan irama yang teratur dan ritmik. Contoh dari beta: Balam pergam, pitam berdendam,
pungguk mabuk, sibuk menjenguk;
Malam kelam, hitam membelam,
duduk tecuguk, tunduk mengantuk.
2). Bunyi
Wilkinson dan Winsted menyatakan bahwa asas pantun yang utama ialah dua baris pertama berisi sugesti bunyi, yaitu bunyi yang memberi petunjuk kepada dua baris terakhir. Kebiasaan mempergunakan sugesti bunyi itulah yang akhirnya melahirkan pantun. H. Overbeck juga melihat hubungan bunyi dalam pantun. Pantun mempunyai hubungan bunyi dan hubungan fikiran, seperti yang diterangkannya dalam kajiannya tentang pantun yang bertajuk The Malay Pantun.
Bunyi kata-kata yang dipakaipun menyediakan kalbu kita untuk menerima isi fikiran atau perasaan yang diucapkan dalam bahagian kedua. Dalam tiap-tiap perkataan isi dan bunyi perkataan rapat berjalin, oleh karena senantisa serempak masuk ke dalam keinsafan kita. Mendengar bunyi yang menyerupai sesuatu perkataan sering kita teringat akan perkataan itu, dan tiada jarang akan isi perkataan itu sekali. Bacalah misalnya pantun berikut ini; dalam dua baris yang pertama dibayangkan bunyi kata-kata yang akan terdapat dalam dua baris berikutnya.
Contoh pantun lama yang terdiri empat baris:
Ranggung, lantaikanlah di bamban,
padi dan banta, punya buah;.
Tanggung, rasaikanlah di badan,
hati dan mata, punya ulah.
Tuai padi, antara masak
esok jangan, layu layuan;
Intai kami, antara nampak
esok jangan rindu-rinduan.
Atau:
Kalau padi, katakan padi,
jangan saya tertampi-tampi;
Kalau jadi, katakan jadi,
Jangan saya, ternanti-nanti.
Contoh pantun lama yang terdiri dua baris dari pantun lama
Sebab pulut, santan terasa;
Sebab mulut badan binasa.
Khusus untuk mendapatkan irama dan bunyi yang lebih sempurna, menurut beta akan lebih meyakinkan apabila ditulis dengan menggunakan aksara Arab Melayu, karena dapat membantu kita mengesan keseragaman bentuk huruf yang pada gilirannya dapat mendukung kesetaraan keindahan irama dan bunyi.
Contoh pantun Dua baris dari beta:
Dupa tiada barapun kurang;
Rupa tiada hartapun kurang.
Indah tatah, ukiran permata;
Lidah petah, fikiran pokta.
Belat urai, tipuan sembunyi;
Helat usai, biduan bernyanyi.
Pantun empat baris dari beta:
Rehat telepuk, menyalah jangan,
gelang sisih, pengalas pundak;
Penat bertepuk, sebelah tangan,
malang kasih, berbalas tidak.
Pantun empat baris dengan gaya perulangan yang saling berkait dari beta:
Kalau biduk, tangan mendayung,
kalau berdayung, bilakan tiba;
Kalau duduk, jangan bermenung,
kalau bermenung, pastikan hiba.
Contoh gaya perulangan lain yang agak rumit (10 baris) dari beta:
Kalau nak tahu, sikayu mati,
kalau dipilih, takkan subur.
kalau diketam, susah dibor,
kalau miring, akan menepi,
kalau patah, dahannya menimpa;
Kalau nak tahu, Melayu jati,
kalau putih, bukan dikapur,
kalau hitam, bukanlah kotor,
kalau kuning, bukan dikunyiti,
kalau merah, bukannya kesumba.
Contoh gaya perulangan lain yang lebih rumit (14 baris) dari beta:
Kalau mahkota, puaka janggi,
kalau dipakai, merusak diri,
kalau dibuang, terkena tulah,
kalau dikebat, merangsang karat,
kalau disimpan, tiada guna,
kalau dibasuh, pasti bercendawan,
kalau direnjis, tidak berkilau;
Kalau berkata, suka meninggi,
kalau bertikai, bertalak pasti,
kalau berjuang, menempa kalah,
kalau berdebat, bertegang urat,
kalau berteman, tiada lama,
kalau bermusuh, berganti lawan,
kalau bermajlis, tidak dihirau.

Inti dari bunyi pada pantun terletak pada tekanan kata (woordaccent) pantun itu hendaklah sesuai dengan tekanan lagu (melodie accent), sehingga bunyi dapat memngkinkan timbulnya kreasi irama.

e. Jedda
Jedda pantun ialah pemberhentian suara sebentar untuk menandakan batas hubungan antara bahagian dalam satu baris pantun. Posisi jedda pantun sangat tergantung pada jumlah kata dalam baris-baris pantun. Dalam hal ini jumlah kata dalam baris pantun yang dijumpai, berkisar antara tiga sampai enam kata.

Pantun yang terdiri dari empat kata dalam sebaris merupakan pantun yang paling lazim ditemui, jedda berada antara dua kata, contoh dari Beta:

Bumi Indragiri/ padan berdaulah,
raja serumpun/ Diraja Melaka;
Kami mewakili/tuan rumah,
minta ampun / kepada semua.

Tetapi ada pula jumlahnya selain dari empat kata dalam sebaris, yaitu terdiri dari tiga kata dalam sebaris (pantun tiga perempat), jeddanya pada kata pertama. Beta contohkan:
Lembing/ atas tangga,
perisai/ atas busut;
Kening/ atas mata,
misai/ atas mulut.
Pantun lima kata dalam sebaris, jeddanya pada kata kedua. Perhatikan contoh beta:

Merambat batang/ pada rumputan pakis,
hinggakan rasuk/ runduk berpadu paut;
Selamat datang/ pada jemputan majelis,
silakan masuk/ duduk beradu lutut
Pantun lima kata dalam sebaris, jeddanya pada kata ketiga. Beta berikan contoh:

Sultan berdaulat amanah/ seri kerajaan,
marwah Diraja mulia/ pada singgasana;
Ucapan selamat tahniah/ kami haturkan,
Rumah tangga bahagia/ semoga terbina.
Pantun enam kata dalam sebaris, jeddanya pada kata ketiga (ditengah). Contoh dari beta:

Kalau sudah nasib/ malang tidak tertolak,
orang makan nangka, awak kena getahnya;
Walau sudah tertib, kadang tidak serempak,
orang makan pertama, awak hanya remahnya.

Tanda / selain tempat pemberhentian suara sebentar antara bahagian kalimat, juga mempunyai tujuannya untuk menentukan panjang pendek serta batas nada dan irama ketika membaca/melantunkan pantun.
Dari ketiga anasir utama pantun (irama, bunyi dan isi); pada pantun kebanyakan tidak selalu hadir serempak dalam suatu pantun, karena pembuat pantun baru setakat mementingkan kesamaan irama. Tak banyak pantun sejati yang menjadi pantun abadi karena memang tidak mudah untuk membikinnya, tetapi bukan tidak mungkin pembuat dan penikmat puisi tradisional ini akan menjadi pandai pantun apabila mau tunak menyediakan diri menggali dan mendalami keluasan konsep ideal pantun Melayu

ARTI DAN MAKNA PANTUN
Pantun adalah bahasa berangkap yang mengandungi unsur-unsur keindahan, seperti banyak baris tiap rangkap, banyak suku kata, rima akhir, pembayang maksud, asonasi-aliterasi, kata-kata yang indah, ringkas dan padat.

Pijnappel membandingkan kata pantun dalam bahasa Melayu dengan umpama dalam bahasa Batak Toba dan kata Wangsalan dalam bahasa Jawa, yang merupakan teka-teki bunyi dalam perkataan. Dia berkesimpulan, seloka kadang-kadang disamakan dengan pantun. Beliau berkesimpulan kata pantun dalam bahasa Melayu itu berasal dari perubahan perkataan pribahasa, sehingga dua baris pertama pantun menjadi kiasan terhadap dua baris berikutnya, seperti yang diterangkannya dalam kitabnya Over der Maleische Pantoen’s.
Ch. A. Van Ophuysen dalam pidatonya ”Het Malaische Volkgedicht” menduga bahwa pantun berasal dari bahasa daun-daun, setelah dia menjumpai ende-ende orang Mandailing yang memakai bahasa daun-daun untuk mengganti surat-surat percintaan. Sedangkan R. J. Wilkinson dan R.O. Winsted justru mengatakan sebaliknya; bukan pantun berasal dari bahasa daun-daun, tetapi bahasa daun-daunlah yang berasal dari pantun.
Dalam bahasa Melayu, secara lughawiy kata pantun – sepantun mempunyai arti: seperti, semisal, umpama/seumpama, bak, bagai/bagaikan, laksana. Hal ini dapat dibuktikan melalui bait-bait pantun berikut:
Bergoncang pohon ditiup angin,
Habis luruh si buah saga;
Tuan sepantun kilat cermin,
Di balik gunung nampak juga.

Anak raja bermain tombak,
Kain dipakai labuh ke lantai;
Tuah saya sepantun ombak,
Malang di pantai pecah berderai.

Anak undan terketik-ketik,
Dikejar ayam patah kaki;
Kami sepantun telur itik,
Kasih ayam maka menjadi.

Daun bayam alaskan senduduk,
Nasi terjerang ceduk ke pinggan;
Sepantun ayam tidak berinduk,
Tampi orang baharu makan.

Sesuai dengan asal-usul etimologisnya, maka pantun memang identik dengan seperangkat kosa-kata yang disusun sedemikian rupa dengan merujuk kepada sejumlah kriteria konvensional menyangkut bentuk fisik dan bentuk mental puisi rakyat anonim.
Sedangkan pengertian pantun secara terminologi terdapat berbagai pendapat sesuai dengan sudut pandang masing-masing berdasarkan terma pokok yang ada. Beberapa pendapat yang ditemukan, antara lain:
1. Hoesein Djajadiningrat berkesimpulan bahwa arti kata pantun ialah bahasa terikat yang teratur atau tersusun. Disamping itu akar kata tun dalam dunia Melayu juga bisa berarti arah, pelihara, dan bimbing seperti diperlihatkan oleh kata tunjuk dan tuntun. Karena itu kata pantun dapat berarti sebagai sepasang bahasa terikat yang dapat memberi arah, petunjuk, tuntunan dan bimbingan. Definisi ini tergambar jelas pada pantun beta berikut:
Bukan sekedar, pokta ulama,
predikat uswatun, Qadi Shalatun;
Bukan sekedar, kata berirama,
hakikat pantun, jadi penuntun.
Menemui Zaitun, membawa katun,
dicakap mahal, belum ternama;
Melalui pantun, syara’ menuntun,
mengungkap prihal, hukum agama.
2. Za’ba (Zainal Abidin Borhan), ahli sastra Melayu, menyatakan: pantun pada mulanya memiliki pengertian ‘seperti’ atau ‘umpama’. Contoh:
Tetak buluh, rancung mengkuang,
penggali urat, si jemertas;
Sama luluh, sama hilang,
seperti dawat, dengan kertas.
Harum baunya, sibunga Tanjung,
harumnya sampai, ke puncak gunung;
Tuan umpama, sekaki payung,
hujan dan panas, tempat berlindung.
3. Harun Mat Piah, mendefinisikan: pantun merupakan quatrain yang terdiri dari baris-baris pendek dan mempunyai irama ujung yang tetap dan berfungsi sebagai ungkapan pikiran dan perasaan secara ringkas dan padat.
4. Kamus Umum Bahasa Indonesia, menyatakan bahwa pantun, “… sajak pendek, tiap-tiap kuplet biasanya empat baris (abab) dan dua baris yang dahulu biasanya untuk tumpuan sahaja …
5. Zaidan dkk (1994:143) mendefinisikan pantun sebagai jenis puisi lama yang terdiri atas 4 larik dengan rima akhir a/b/a/b. Setiap larik biasanya terdiri atas 4 kata, larik 1-2 merupakan sampiran, larik 3-4 merupakan isi.
6. Rani (1996:58) mendefinsikan pantun sebagai jenis puisi lama yang terdiri atas 4 baris dalam satu baitnya. Baris 1-2 adalah sampiran, sedang baris 3-4 adalah isi. Baris 1-3 dan 2-4 saling bersajak akhir vertikal dengan pola a/b/a/b.
7. Di dalam Leksikon Sastra Indonesia juga dijelaskan bahwa pantun merupakan jenis puisi lama yang setiap baitnya terdiri dari empat larik berima bersilang abab, dan tiap larik biasanya terdiri dari empat kata. Dua larik (baris) pertama, yang lazim disebut sampiran (tumpuan bicara = kata pembayang), menjadi petunjuk rimanya; dua larik berikutnya yang mengandung inti artinya disebut inti pantun (maksud bicara).

Dari definisi pantun tersebut dapat beta simpulkan bahwa pantun sebenarnya merupakan ungkapan pikiran maupun perasaan yang tertuang dalam rangkaian kata yang singkat dan padat dengan rima yang tetap antara sampiran dan isi. Dalam konteks inilah alegori yang tampil dalam pantun tak dapat terlepas dari pengalaman konkret masyarakat akan dunia mereka yang partikular.

Pantun merupakan wadah yang digunakan oleh orang Melayu untuk mengungkapkan pikiran dan rasa hatinya tentang makna kehidupan, tentang kelakukan manusia dan hubungannya dengan alam sekitar. Hasil dari perenungan ini lahirlah mutiara hati, rasa jiwa, dan akal, yang tercurah dalam bentuk puisi sangat kreatif, halus kualitas seninya, sopan dan santun penuturannya, luas dan dalam makna kandungan. Daillie (1988) berpendapat; jika ingin mengkaji dunia Melayu maka pantun merupakan salah satu aspek utama dalam memahami peradaban Melayu karena pantun memaparkan karakter khas mengenai alam, lingkungan, pemikiran, dan kehalusan rasa yang dimiliki orang Melayu.
Sebagai identitas dan karakter bangsa Melayu; pantun adalah representasi ilmu dan kearifan lokal, mengundang dan mengandung pengetahuan persekitaran yang dimiliki oleh bangsa Melayu. Oleh karena pantun mewakili tamadun dan kosa kata dasar yang khas kehidupan Melayu, maka keberadaan pantun Melayu tidak akan tercabut dari akar Melayunya karena pantun adalah getar rasa dan pikir Melayu.

Sehubungan dengan arti dan makna pantun, secara kajian akademik; pantun Melayu memang tidak akan pernah punah dari perbincangan dan pengucapan serta penciptaan. Sejalan dengan perubahan dan perkembangan zaman, pantun masih bertahan dan terus bergerak dengan aneka bentuk dan tema sesuai muatan fikir serta rasa pembuat maupun pengaruh lingkungan yang melingkupinya. Tetapi yang menjadi persoalan; sejauhmana pantun pantun mutaakhir dapat mempertahankan jati diri dan kesejatiannya sebagai karya seni Melayu yang Indah menurut estetika, baik menurut etika, dan benar menurut agama.

Secara kaidah, berbagai ta’rif (definisi/pengertian secara lughawi) tentang makna pantun yang telah dikemukakan oleh para ahli belum tentu dapat menjamin mereka mampu melahirkan karya pantun yang sejati. Begitu pula pembuat pantun tidak mungkin dapat melahirkan pantun yang sebenar pantun bila tidak mengetahui seluk beluk pantun secara teoritis.

Penggabungan kemampuan teoritis dan praktis ditambah dengan pengetahuan tentang kemelayuan tertutama dari aspek perbendaharaan kata berkenaan dengan sejarah, seni budaya, adat resam, acara/upacara tradisi, serta hasil olahan yang melingkupi hidup dan kehidupan bangsa Melayu diyakini akan dapat mengantarkan para pembuat pantun menjadi pandai pantun.
*Tulisan ini pernah diterbitkan di Harian Rakyat Riau