Ada beberapa alasan penulis yang dapat dijadikan hujah memadankan lambang bunyi/huruf X pada aksara Latin dengan huruf Kaf titik tiga di bawah dalam aksara Arab Melayu/Jawi, yaitu:

1. Dipilihnya huruf Kaf titik tiga di bawah, bukan gabungan huruf Kaf +_Sin, selain karena alas an efektifitas, juga didasarkan pada pertimbangan kesamaan bunyi, karena pada huruf X ketika diucapkan terdengar huruf K dan S. Di dalam abjad Arab, huruf yang bertitik tiga hanyalah huruf Tsa dan Syin. Kedua huruf Arab ini mengandung kualitas bunyi sibilant (berdesis). Dengan demikian cukup munasabah, karena Kaf titik tiga di bawah merupakan symbol/lambang bunyi yang mewakili huruf Kaf dan Syin.

2. Ketika pencarian lambang bunyi dalam aksara Arab Melayu, tanda titik tiga sangat membantu penegasan perbedaan antara huruf asli Arab dengan huruf Arab Melayu, seperti: C, (= Ha-tipis + titik tiga di bawah); Ng ( = ‘Ain + titik tiga di atas); Ny (=Ya + titik tiga di atas). Dengan demikian, tanda titik tiga (di atas/bawah) dikenal dalam huruf Arab dan Arab Melayu.
3. Dipilihnya huruf Kaf dengan memberi titik tiga di bawah, selain untuk menghindarkan kemiripan sekaligus untuk mempertegas perbedaannya dengan huruf G yang juga menggunakan huruf Kaf titik satu di atas. Apabila tanda titik tiga diletakkan di atas dikhawatirkan akan menyesatkan pembaca, karena pengguna Arab Melayu selama ini telah terbiasa dan akrab dengan keberadaan huruf G ( = Kaf punya titik satu di atas).

4. Penulis memilih huruf Kaf bukannya Qaf, karena sudah ada tiga lambang bunyi yang menggunakan rumah huruf ini, yaitu: Fa (titik satu di atas), Pa (titik tiga di atas) dan Qaf (titik dua di atas). Apabila diberi titik tiga di bawah, selain terlihat janggal, juga akan menyulitkan sistem penulian terutama ketika ia berada di tengah kata. Selain daripada itu, rumah huruf berbentuk bulat arah ke atas dalam abjad Arab berapapun jumlah titiknya, semua posisinya berada di atas huruf – tidak ada yang dibawah. Selain daripada itu, penggunaan titik tiga di bawah dalam aksara Arab Melayu hanya huruf C (= Ha titik tiga di bawah) selebihnya di atas. Dengan demikian pemilihan titik tiga di bawah karena jumlahnya tidak
banyak maka hal ini dilakukan untuk mengimbangi jumlah huruf yang bertitik tiga di atas
5. Penggunaan tanda titik tiga pada huruf huruf khas Arab Melayu merupakan upaya efektifitas penggunaan huruf sebagai lambang bunyi, karena ada kecendrungan yang menjadi kaidah baku: satu lambang bunyi = satu huruf, sementara dalam tulisan Arab kosa kata asing yang tidak terakomudir perlambangannya pada abjad Arab terpaksa menggunakan dua huruf mengikut bunyi atau ucapan, sebagai contoh: ejaan kata Bandung dalam tulisan Arab terdiri dari huruf: Ba, Nun, Dal, Nun + Jim. Apabila ditransliterasi huruf per huruf dalam aksara Latin menjadi Bandunj, bermakna untuk huruf Ng dipadankan dengan dengan huruf dua huruf: Nun + Jim. Dalam aksara Arab Melayu, lambang bunyi/huruf Ng cukup dipadankan dengan satu huruf saja, yaitu: ‘Ain titik tiga di atas. Begitu juga ejaan kata Aceh, dalam tulisan Arab terdiri dari: Alif, Ta+Syin dan Ha. Apabila ditranliterasi huruf per huruf dalam aksara Latin menjadi Atsyeh, bermakna untuk huruf C dipadankan dengan dua huruf: Ta + Syin. Sedang dalam aksara Arab Melayu, lambang bunyi/huruf C juga dipadankan dengan satu huruf saja, yaitu huruf Ha (H-tipis) titik tiga di bawah. Selanjutnya, mengenai huruf Ny pada lidah/sengau Melayu tidak ditemui dalam bahasa Arab, apabila ditranliterasi kepada aksara Arab menjadi Nun dan Ya. Sebagai contoh kata-kata: man ya’mal dan kal bun yan. Pertemuan huruf Nun (mati) atau huruf huruf konsonan berbaris dua (di atas-depan-bawah) yang
menimbulkan bunyi nun dengan Ya tidak menimbulkan bunyi senada dengan Ny. Dalam aksara Arab
Melayu, lambang bunyi gabungan huruf Ny dipadankan dengan satu huruf pula, yaitu rumah huruf Ya titik tiga di atas

Sedangkan alasan pendukung lainnya adalah:
1. Dari segi kaidah huruf dan kaidah penulisan, huruf Kaf yang diberi titik tiga di bawah sebagai padanan ataupun transliterasi huruf X dalam sistem penulisan huruf Arab/Arab Melayu, apabila huruf ini berdiri sendiri, ataupun berada di awal – tengah – akhir kata tidak mengalami kesenjangan bentuk dan kesulitan dalam penulisan karena bentuknya yang tidak berubah. Berbeda dengan huruf Ng ( = ‘Ain titik tiga di atas) karena sifat huruf ini apabila berdiri sendiri dan berada di depan kata bentuknya bulat terbuka di bahagian depan. Apabila di tengah kata bentuknya hampir bulat menyerupai segitiga. Jika di akahir kata bentuk
berubah lagi bulat menyerupai segitiga dengan garis bawah melengkung ke kanan.
2. Apabila huruf Kaf titik tiga di bawah bertemu dengan huruf lain (di manapun posisinya) ketika ditulis hurufnya tidak terputus melainkan tetap dapat bersambung. Berbeda dengan huruf Waw titik satu di atas ( = V), karena sifat huruf Waw tidak bisa disambung dengan huruf lain ketika ia berada di awal dan di tengah kata.
3. Apabila huruf Kaf titik tiga di bawah bertemu dengan huruf huruf saksi : Alif, Ya dan Waw tidak menimbulkan masalah sebagaimana halnya lambang bunyi/huruf Ny (rumah huruf Ya titik tiga di atas) ketika bertemu dengan huruf saksi di manapun posisinya akan menimbulkan masalah karena bentuknya akan menjadi huruf Tsa (yang juga mempunyai titik tiga di atas). Berdasarkan alasan dan hujjah tersebut diharapkan dapat memperkuat dan mempertegas pilihan penggunaan huruf Kaf titik tiga di bawah dalam aksara Arab Melayu sebagai padanan huruf X pada aksara Latin.

Pengaplikasian huruf Kaf titik tiga di bawah dalam praktik penulisan tidak mengalami kesulitan terutama dalam hal tulis tangan (hand skrip). Sedangkan untuk alat tulis mesin ketik beraksara Arab, kasusnya sama dengan huruf-huruf khas Arab Melayu yang diberi titik secara manual pada hasil ketikan. Khusus dalam penulisan dengan menggunakan computer yang mempunyai program font Arab dapat melakukan pengetikan secara biasa, jika ada keperluan menggunakan huruf Kaf titik tiga di bawah dapat diambil pada Symbol Special Characters Arabic Extended.

SPN. Drs. Ahmad Darmawi, M.Ag (G.P. Ade Dharmawi)
Seniman dan Budayawan; Sultan Teater Riau
Pembina Sanggar Latah Tuah
PD. III Fakultas Pertanian dan Peternakan UIN SUSKA Riau.